KEPEMIMPINAN DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN



1. Lima teori motivasi yang berkaitan dengan kepemimpinan adalah :

A.       Teori kepuasan (Content Theory) Teori kepuasan yang mendasarkan pendekatannya atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak serta berprilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, dan menghentikan prilakunya, teori ini menjawab pertanyaan kebutuhan apa yang memuaskan seseorang dan apa yang mendorong semangat bekerja seseorang. Teori ini bertujuan untuk mencari a) kebutuhan apa yang diperlukan oleh bawahan untuk mencapai kepuasan b) dorongan apa saja yang menyebabkan bawahan itu berprilaku. Teori ini sangat cocok diterapakan pada lembaga pendidikan atau sekolah, sebab seorang guru / siswa akan semangat dalam aktivitas mereka jika dalam aktivitas mereka semuanya dilengkapi,baik itu dari segi sarana pendidikan, ataupun gaji yang layak bagi para guru. Jika semua keinginan dari guru dan siswa tadi di lengkapi maka akan timbul dari dalam dirinya suatu motivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih.

B.       Teori Hierarki Kebutuhan, ( Abraham Maslow ) yang mengemukakan teori hierarki kebutuhan, teori ini berpendapat bahwa seseorang mau bekerja karena adanya dorongan untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan dan kebutuhan yang diinginkan seseorang itu berjenjang yaitu :

1.                        Physiological needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum perumahan, dan kesejahteraan individu, karena kebutuhan ini sudah terasa sejak manusia dilahirkan ke bumi ini.

2.                        Safety needs yaitu kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman dari kecelakaan dan keselamatan dari pekerjaan, perasaan aman juga menyangkut pegawai.

3.                        Social needs, Manusia pada hakekatnya adalah mahluk sosial, sehingga mereka mempunyai kebutuhan sosial sebagai berikut

a)      Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain

b)      Kebutuhan akan perasaan dihormati

c)      Kebutuhan untuk berprestasi

d)     Kebutuhan untuk ikut serta

4.                       Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan

5.                       Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Tujuan dari teori maslow ini adalah untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, baik itu kebutuha primer ataupun kebutuhan sekunder, teori ini sangat tepat sekali diterapkan disekolah karena dengan memenuhi semua kebutuhan yang disebutkan diatas semua warga sekolah, guru,kepala, siswa akan memiliki suatu motivasi yang sangat luar biasa.

C.       Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi) Dari Mc Clelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan : Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit.Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku.Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil. Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. Teori ini bisa digunakan di sekolah,setiap siswa ataupun guru menginginkan untuk memiliki suatu prestasi maka dengan menerapkan cara motivasi ini maka guru ataupun siswa akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik

D.       Teori Herzberg (Teori Dua Faktor) Teori yang dikembangkannya dikenal dengan Model Dua Faktor dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

E.        Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ) Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu,dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya,yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Dalam lembaga pendidikan guru ataupun siswa akan melakukan apa saja jika mereka melihat suatu peluang apalagi peluang itu terbuka dengan lebar. Apalagi di lembaga pendidikan orang-orang ataupun masyarakat banyak menggantugkan harapannya untuk mencapai cita-cita merekam, dengan melaksanakan teori  ini maka warga sekolah akan sangat termotivasi sekali untuk dapat mewujudakan harapan-harapan mereka tersebut.

2. Model dinamika kelompok

Pengertian dinamika kelompok secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu dinamika kelompok sebagai cabang suatu ilmu dan dinamika kelompok dalam pengertian umum. Kurt Lewin sebagai perintis Ilmu Dinamika Kelompok menyatakan bahwa Ilmu Dinamika Kelompok mempelajari: (1) tenaga yang bekerja dalam kelompok, (2) penyebab adanya tenaga tersebut, (3) kondisi bagaimana yang dapat mengubah tenaga-tenaga tersebut, (4) apa akibatnya terhadap individu maupun kelompok.

Dalam kaitannya dengan dinamika kelompok terdapat 4 (empat) tahapan pertumbuhan kelompok, yaitu: (1) tahap pembentukan rasa kekompakan; (2) tahap pancaroba; (3) tahap pembentukan norma, dan; (4) tahap berprestasi. Tahap pembentukan rasa kekompakan akan menghasilkan dua kondisi psikologis, yaitu saling mengenal secara pribadi di antara anggota kelompok dan menghilangkan kebekuan/kekakuan dalam interaksi antarindividu.Situasi tersebut akan menghasilkan kelompok yang kompak. Sedang tahap pancaroba setiap anggota diharapkan dapat menyatakan perasaannya dengan demikian semua anggota kelompok merasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Pada tahap pembentukan norma, diharapkan terbentuk norma kelompok yang disepakati bersama untuk dijadikan pedoman berperilaku kelompok sehingga terbentuk kelompok yang sinergis. Pada tahap berprestasi merupakan situasi yang kelompoknya dapat mencapai tingkat produktivitas yang tinggi.

Pemimpin Kelompok

Pemimpin adalah orang yang memiliki kemauan, kecakapan dan kelebihan, sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain/anggota kelompok untuk bekerja sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan kelompok.Sedang kepemimpinan adalah usaha untuk mempengaruhi orang lain/anggota kelompok, lewat proses komunikasi, untuk mencapai tujuan kelompok. Ada 5 sikap mental yang harus dipenuhi/dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pengikut/anggota kelompok yang efektif, yaitu (1) pandai menggunakan waktu, (2) memperhatikan hasil yang akan dicapai organisasi, (3) membangun kerja sama, (4) memperhatikan prioritas organisasi, dan (5) berorientasi pada sistem.

Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka. Goldberg dan Larson menyatakan bahwa komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian, dan terapan, yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil. Komunikasi kelompok mulai sering muncul dengan istilah alternatif dari “diskusi”. Komunikasi kelompok hanya memusatkan perhatiannya pada proses komunikasi pada kelompok kecil, sedang dinamika kelompok memusatkan perhatiannya pada tingkah laku kelompok. Komunikasi kelompok maupun diskusi kelompok sama-sama memusatkan perhatiannya pada tingkah laku para anggota kelompok dalam berdiskusi. Akan tetapi komunikasi kelompok memandang proses diskusi kelompok kecil dari sudut pandang yang lebih “ilmiah”, artinya lebih sebagai bidang ilmu penyelidikan dan agak kurang sebagai bidang pengembangan keterampilan dan penyempurnaan kelompok. Komunikasi kelompok lebih tertarik pada deskripsi dan analisis proses diskusi daripada merumuskan bermacam-macam persyaratan untuk meningkatkan efektivitas suatu diskusi kelompok.

Dalam suatu lembaga pendidikan akan banyak ditemui kelompok-kelompok, baik itu kelompok formal ataupun kelompok non formal. Keberadaan kelompok ini sangat mempengaruhi ketercapaian tujuan dari organisasi pendidikan. Oleh karena itu dalam tahapan dinamika kelompok dalam lemabaga pendidikan akan diawali dengan

1.      Pembentukan rasa kekompakan, anggota-anggota yang ada didalam suatu kelompok tidak berasal dari satu bagian saja,tapi berasal dari berbagai bagian dari organisasi tersebut, karena itu ditahap awal langkah yang harus dilakukan adalah untuk membentuk kekompakan pada tim atau kelompok tersebut.

2.      Tahap kedua adalah tahap pancaroba, dimana semua anggota kelompok menyatakan semua perasaannya, apa yang dia rasakan dan dia ketahui diceritakan ini dengan harapan supaya anggota kelompok menjadi satu kesatuan yang utuh.

3.      Tahap ketiga adalah pembentukan norma pada anggota kelompok, ini mereka tetapkan secara bersama dan harus ditaati. Ini bertujuan untuk mengatur bagaimana mereka berprilaku dalam suatu kelompok.

4.      Tahap terakhir adalah dimana pada saat itu kelompok atau tim sudah menunjukkan prestasinya,mereka bekerja sebagai satu tim bukan secara pribadi.

 

 

 

3. Program pelatihan peningkatan kepemimpinan kepala sekolah

 

Diklat Kepemimpinan Kepala Sekolah

A. Latar Belakang

Kepala sekolah memainkan peran sangat penting suatu lembaga formal yang mengelola proses pembelajaran. Kepala sekolah harus mampu membangun iklim sekolah yang kondusif yang memungkinkan anggota sekolah mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Upaya membangun iklim sekolah yang kondusif ini akan sangat terkendala dan bahkan mungkin kontraproduktif jika kepala sekolah tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang produktif, yaitu kepala sekolah yang perilakunya dapat menjadi teladan, memotivasi, dan memberdayakan. Kepala sekolah seperti ini keberadaannya memberi nilai tambah bagi kemaslahatan bagi lembaga dan anggotanya.

Kepala sekolah yang ada sekarang kebanyakan dari mereka tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan kewibawaan dimata para guru, hal ini terjadi karena mereka memangku jabatan karena ditunjuk atau tuntutan tugas yang diberatkan pada mereka. Akhirnya dilapangan mereka mengalami kewalahan dalam memimpin suatu sekolah, mereka tidak dihargai oleh guru ataupun siswa.

Unutk menghindari agar hal ini tidak terjadi kembali maka diadakanlah pelatihan kepemimpinan, ini demi menciptakan seorang kepala sekolah yang berjiwa pemimpin dan menjadi pemimpin yang dicintai oleh bawahannya / guru-guru.

 

 

B. Tujuan

Diklat ini bertujuan membekali kepala sekolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkannya meningkatkan kualitas kepemimpinannya.

Selain itu juga untuk meningkatkan kualitas kepribadian kepala sekolah dalam memimpin suatu lembaga pendidikan.

 

 

 

C. Materi Diklat

 

1.                            Dinamika kelompok

2.                            Kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah yang kondusif

3.                            Konsep dan praktik keteladanan pemimpin

4.                            Konsep dan praktik pemotivasian yang efektif

5.                            Konsep dan praktik komunikasi yang efektif

6.                            Konsep dan praktik pemecahan masalah dan pengambilan keputusan

7.                            Konsep dan praktik pemberdayaan SDM sekolah

 

D. Metode

Ceramah, diskusi, dan praktik

 

E. Peserta

1.                            Peserta pelatihan terutama adalah para kepala sekolah.

2.                            Jumlah peserta maksimal 35 0rang/kelas

 

F. Fasilitator

 

Kegiatan pembelajaran ini difasilitasi oleh widyaiswara dan tenaga ahli yang relevan.

G. Tempat dan Lama Diklat

Kegiatan ini dilaksanakan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Sumatera Barat, kegiatan ini berlangsung selama enam  hari , yaitu dari hari senin sampai hari sabtu.

H. Perkiraan Biaya

1.      Kokarde peserta 1@ Rp 2.000,- X 35                       Rp. 70.000

2.      Materi diklat 1@Rp 10.000,- X 35 X 6         Rp. 2.100.000

3.      Makan peserta 1@Rp 10.000 X 3 X 35 X 6 Rp. 6.300.000

4.      Penginapan 1@Rp 30.000 X 35 X 6             Rp. 6.300.000

Total biaya                                                                          Rp.14.770.000

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: