MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN


MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Memasuki  abad  ke  21  ini  Indonesia  dihadapkan  pada  masalah  yang  rumit  seperti  masalah
reformasi  dalam  kehidupan  bernegara  dan  berbangsa,  masalah   krisis  yang  berkepanjangan
dan  hingga  saat  ini  belum  tuntas,  masalah  kebijakan  makro   pemerintah  tentang  sistem
pemerintahan  otonomi  daerah   yang  memberdayakan  masyarakat.  Kita  juga   menghadapi
perubahan-perubahan besar dan amat fundamental dilingkungan global. Perubahan lingkungan
strategis pada tataran global tersebut tercermin pada pembentukan forum-forum seperti GATT,
WTO,  dan  APEC,  NAFTA  dan  AFTA,  IMG-GT,  IMS-GT,  BIMP-EAGA,  dan  SOSEKMALINDO
yang  merupakan  usaha  untuk  menyongsong  perdagangan  bebas  dimana  pasti  akan
berlangsung  tingkat  persaingan  yang  amat  ketat.   Suatu  perubahan  regulasi  yang  semula
monopoli (monopoly) menjadi persaingan bebas (free competition). Demikian pula, terjadi pada
pasar  yang  pada  awalnya  berorientasi  pada  produk  (product  oriented)  beralih  pada  orientasi
pasar  (market  driven),  serta  dari  proteksi  (protection)  berpindah  menjadi  pasar  bebas  (free
market ).
Untuk itu perlu mengantisipasi keadaan ini dengan memperkuat kemampuan bersaing
diberbagai bidang dengan pengembangan Sumber Daya Manusia. Sayangnya SDM kita saat
ini memprihatinkan, menurut UNDP. Indonesia menempati peringkat 109 dari 174, peringkat
daya saing ke 46 yang paling bawah di kawasan Asia Tenggara, Singapura ke-2, Malaysia ke-
27. Phillipina ke 32, dan Tailand ke 34, dan termasuk negara yang paling korup didunia.(Indra
Jati Sidi, 2000). Menurut Survei Human Development Index  sebagaimana diungkapkan oleh
Yutata Hadi  Andoyo Direktur Direktorat Peguruan Tinggi Swasta Ditjen Pendidikan Tinggi
Depdiknas, kualitas SDM Indonesia saat ini menduduki peringkat ke 105. Untuk ilustrasi ,
perangkat SDM di kawasan Asia Tenggara yaitu Singapura menduduki peringkat 25, Brunei 26,
Malaysia 56, Thailand 57 dan Pilipina 77. (Jawa Post, 11 Juli 2000).
Dalam upaya peningkatan SDM, peranan pendidikan cukup menonjol. Oleh karena itu sangat
penting bagi pembangunan nasional untuk memfokuskan peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan yang bermutu akan diperoleh pada  sekolah yang bermutu, dan sekolah yang
bermutu akan menghasilkan SDM yang bermutu pula.
Sementara itu rendahnya mutu SDM signifikan dengan rendahnya mutu pendidikan tinggi,
sebagaimana data yang dipaparkan oleh Dr Ibrahim Musa MA, Dosen FKIP Universitas
Terbuka sesuai survey Asia Week, mengungkap rendahnya peringkat universitas terbaik di
tanah air diantara universitas-universitas terbaik di Asia Pasifik. Dari 77 universitas yang
disurvey, empat universitas terbaik dalam standar Indonesia menempati urutan bawah, UI
peringkat ke-61, UGM ke-68, Undip ke-73, dan Unair ke-75 (Republika, 22/4/02).
Berkaitan dengan mutu, Joseph. M. Juran yang pikiran-pikirannya begitu terkenal dan
berpengaruh di Jepang sehingga pada tahun 1981 dia dianugerahi Order of the Sacred
Treasure oleh Kaisar Jepang, mengemukakan bahwa 85% dari masalah-masalah mutu terletak
pada manajemen (pengelolaan), oleh sebab itu sejak dini manajemen haruslah dilaksanakan
seefektif  dan seefisien mungkin.  (M. Jusuf Hanafiah dkk, 1994:101). Salah satu bentuk
manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan bisa diadaptasi dalam dunia
pendidikan adalah TQM (total quality management) pada sistem pendidikan yang sering
disebut sebagai: Total Quality Management in Education (TQME).
B. Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Pada Industri Modern
Manajemen  sekolah  seyogyanya  memahami  pula  perkembangan  manajemen  sistem  industri
modern, sehingga mampu mendesain, menerapkan, mengendalikan, dan meningkatkan kinerja
sistem  pendidikan   yang  memenuhi  kebutuhan  manajemen  sistem  industri  modern.  Hal  ini
dimaksudkan  agar  setiap  lulusan  dari  sekolah  mampu  dan  cepat  beradaptasi  dengan
kebutuhan  sistem  industri  modern.  Dengan  demikian  sebelum  membahas  tentang  sistem
pendidikan di sekolah, perlu diketahui tentang konsep dasar sistem industri modern yang akan
dipergunakan  sebagai  landasan  utama  untuk  membahas  penerapan  TQME  pada  sistem
pendidikan modern di Indonesia.
Total  quality  manajement  merupakan  suatu  pendekatan  dalam  menjalankan  usaha  yang
mencoba untuk  memaksimumkan daya  saing organisasi melalui perbaikan terus  menerus atas
produk,  jasa,  tenaga  kerja,  proses  dan  lingkungannya.  (Fandi,  1995  dalam  M.N  Nasution,
2001:28).   Untuk mencapai  usaha tersebut digunakan  sepuluh  unsur  utama TQM,  yaitu  fokus
pada  pelanggan,  obsesi  terhadap  qualities,  pendekatan  ilmiah,  komitmen  jangka  panjang,
kerjasama  tim,  perbaikan  kerkesinambungan,  pendidikan  dan  latihan,  kebebasan  terkendali,
kesatuan  tujuan,  dan  ketertiban  serta  pemberdayaan  karyawan.  (Goetsch  dan  Davis,  1994
dalam  M.N.  Nasution,  2000:29-30).  Ada  empat  prinsip  utama  dalam  TQM,  yaitu  :  kepuasan
pelanggan,  respek  terhadap  setiap  orang,  manajemen  berdasarkan  fakta,  dan  perbaikan
berkesinambungan (Hensler dan Brunnel dalam M.N Nasution, 2001:33-34).
Pada  dasarnya  proses  industri  harus  dipandang  sebagai  suatu  peningkatan  terus-menerus
(continuous industrial process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide-
ide  untuk  menghasilkan  suatu  produk,  pengembangan  produk,  proses  produksi,  sampai
distribusi  kepada  konsumen.  Seterusnya,  berdasarkan  informasi  sebagai  umpan-balik  yang
dikumpulkan  dari  pengguna  produk  (pelanggan) itu  dapat  dikembangkan  ide-ide  kreatif  untuk
menciptakan  produk  baru  atau  memperbaiki  produk  lama  beserta  proses  produksi  yang  ada
saat ini. (Vincent Gaspersz,2000:1)
Agar peningkatan proses industri dapat berjalan secara konsisten, maka dibutuhkan
manajemen sistem industri, yang pada umumnya akan dikelola oleh lulusan perguruan tinggi.
Konsep sistem industri dan manajemen sistem industri ditunjukkan dalam Gambar 1. Dari
Gambar 1 tampak bahwa manajemen sistem industri terdiri dari dua konsep, yaitu: (1) konsep
manajemen dan (2) konsep sistem industri. Suatu sistem industri mengkonversi input yang
berasal dari pemasok menjadi output untuk digunakan oleh pelanggan, sedangkan manajemen
sistem industri memproses informasi yang berasal dari sistem industri, pelanggan, dan
lingkungan melalui proses manajemen untuk menjadi keputusan atau tindakan manajemen
guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem industri.
Berdasarkan  konsep  manajemen  sistem  industri  modern  di  atas,  maka  setiap  lulusan
perguruan  tinggi  yang  akan  bekerja  dalam  sistem  industri  harus  memiliki  kemampuan  solusi
masalah-masalah  industri  yang  berkaitan  dengan  bidang  ilmu  yang  dikuasainya  berdasarkan
informasi yang relevan agar menghasilkan keputusan dan tindakan untuk meningkatkan kinerja
sistem industri tersebut. (Vincent Gaspersz,2000:1)
C. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah
Ada  tiga faktor  penyebab  rendahnya  mutu  pendidikan  yaitu :  kebijakan dan  penyelenggaraan
pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input
analisis  yang tidak  consisten; 2)  penyelenggaraan pendidikan  dilakukan  secara  sentralistik;  3)
peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat
minim (Husaini Usman, 2002).
Berdasarkan penyebab tersebut dan dengan adanya era otonomi daerah yang sedang berjalan
maka  kebijakan  strategis  yang  diambil  Direktorat  Jenderal  Pendidikan  Dasar  dan  Menengah
dalam  meningkatkan  mutu  pendidikan  untuk  mengembangkan  SDM  adalah  :  (1)  Manajemen
peningkatan  mutu  berbasis  sekolah  (school  based  management)  dimana   sekolah  diberikan
kewenangan  untuk  merencanakan  sendiri  upaya  peningkatan  mutu  secara  keseluruhan;  (2)
Pendidikan  yang  berbasiskan  pada  partisipasi  komunitas  (community  based  education)  di
mana  terjadi  interaksi  yang  positif  antara  sekolah  dengan  masyarakat,  sekolah  sebagai
community  learning  center;  dan  (3)  Dengan  menggunakan  paradigma  belajar  atau  learning
paradigm  yang  akan  menjadikan  pelajar-pelajar  atau  learner  menjadi  manusia  yang
diberdayakan.  Selain  itu  pada  tanggal  2  Mei  2002,  bertepatan  hari  pendidikan  nasional,
pemerintah telah mengumumkan  suatu  gerakan  nasional  untuk  peningkatan  mutu pendidikan,
sekaligus  menghantar  perluasan  pendekatan  Broad  Base  Education  System  (BBE)  yang
memberi  pembekalan  kepada  pelajar  untuk  siap  bekerja  membangun  keluarga  sejahtera.
Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang
berisi  pemahaman  yang  luas  dan  mendalam  tentang  lingkungan  dan  kemampuannya  agar
akrab  dan  saling  memberi  manfaat. Lingkungan  sekitarnya  dapat  memperoleh  masukan  baru
dari  insan  yang  mencintainya,  dan  lingkungannya  dapat  memberikan  topangan  hidup  yang
mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat
Untuk  merealisasikan  kebijakan  diatas  maka  sekolah  perlu  melakukan  manajemen
peningkatan  mutu.  Manajemen  Peningkatan  Mutu  (MPM)  ini  merupakan  suatu  model  yang
dikembangkan  di  dunia  pendidikan,  seperti  yang  telah  berjalan  di  Sidney,  Australia  yang
mencakup : a) School Review, b) Quality Assurance, dan c) Quality Control, dipadukan dengan
model  yang  dikembangkan di  Pittsburg,  Amerika  Serikat  oleh  Donald  Adams,  dkk. Dan  model
peningkatan  mutu  sekolah  dasar  yang  dikembvangkan  oleh  Sukamto,  dkk.  Dari  IKIP
Yogyakarta (Hand Out, Pelatihan calon Kepala Sekolah).
Manajemen peningkatan mutu sekolah adalah suatu metode peningkatan mutu yang bertumpu
pada sekolah itu sendiri, mengaplikasikan sekumpulan teknik, mendasarkan pada ketersediaan
data  kuantitatif  &  kualitatif,  dan  pemberdayaan  semua  komponen  sekolah  untuk  secara
berkesinambungan  meningkatkan  kapasitas  dan  kemampuan  organisasi  sekolah  guna
memenuhi  kebutuhan  peserta  didik  dan  masyarakat.  Dalam  Peningkatan  Mutu  yang
selanjutnya  disingtkat MPM, terkandung upaya a)  mengendalikan proses yang berlangsung  di
sekolah  baik  kurikuler  maupun  administrasi,  b)  melibatkan  proses  diagnose  dan  proses
tindakan  untuk  menindak  lanjuti  diagnose,  c)  memerlukan  partisipasi  semua  fihak  :  Kepala
sekolah, guru, staf administrasi, siswa, orang tua dan pakar.
Berdasarkan pengertian di atas dapat difahami  bahwa Manajemen Peningkatan Mutu memiliki
prinsip :
1.
Peningkatan mutu harus dilaksanakan di sekolah
2.
Peningkatan  mutu  hanya  dapat  dilaksanakan  dengan  adanya  kepemimpinan
yang baik
3.
Peningkatan  mutu harus  didasarkan  pada  data  dan fakta  baik bersifat  kualitatif
maupun kuantitatif
4.
Peningkatan  mutu  harus  memberdayakan  dan  melibatkan  semua  unsur  yang
ada di sekolah
5.
Peningkatan mutu  memiliki  tujuan  bahwa sekolah  dapat  memberikan  kepuasan
kepada  siswa,  orang  tua  dan  masyarakat.  (Hand  out,  pelatihan calon  kepala  sekolah
:2000)
Adapun  penyusunan  program  peningkatan  mutu  dengan  mengaplikasikan  empat  teknik  :  a)
school  review,  b)  benchmarking,  c)  quality  assurance,  dan  d)  quality  control.  Berdasarkan
Panduan   Manajemen Sekolah (2000:200-202) dijelaskan sebagai berikut :
a. School review
Suatu proses dimana seluruh komponen sekolah bekerja sama khususnya dengan orang tua
dan tenaga profesional (ahli) untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas sekolah, serta mutu
lulusan.
School review dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut :
1.  Apakah yang dicapai sekolah sudah sesuai dengan harapan orang tua
siswa dan siswa sendiri ?
2.  Bagaimana prestasi siswa ?
3.  Faktor apakah yang menghambat upaya untuk meningkatkan mutu ?
4.  Apakah faktor-faktor pendukung yang dimiliki sekolah ?
School  review  akan  menghasilkan  rumusan  tentang  kelemahan-kelemahan,  kelebihan-
kelebihan  dan  prestasi  siswa,  serta  rekomendasi  untuk  pengembangan  program  tahun
mendatang.
b. Benchmarking :
Suatu  kegiatan untuk menetapkan  standar dan target yang  akan  dicapai  dalam  suatu  periode
tertentu. Benchmarking dapat diaplikasikan untuk individu, kelompok ataupun lembaga.
Tiga pertanyaan mendasar yang akan dijawab oleh benchmarking adalah :
1.
Seberapa baik kondisi kita?
2.
Harus menjadi seberapa baik?
3.
Bagaimana cara untuk mencapai yang baik tersebut?
Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah :
1.
Tentukan fokus
2.
Tentukan aspek/variabel atau indikator
3.
Tentukan standar
4.
Tentukan gap (kesenjangan) yang terjadi.
5.
Bandingkan standar dengan kita
6.
Rencanakan target untuk mencapai standar
7.
Rumuskan cara-cara program untuk mencapai target
c. Quality assurance
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana
seharusnya. Dengan teknik ini akan dapat dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada
proses. Teknik menekankan pada monitoring yang berkesinambungan, dan melembaga,
menjadi subsistem sekolah.
Quality assurance akan menghasilkan informasi, yang :
1.
Merupakan umpan balik bagi sekolah
2.
Memberikan  jaminan  bagi  orang  tua  siswa  bahwa  sekolah  senantiasa
memberikan pelayanan terbaik bagi siswa.
Untuk melaksanakan quality assurance menurut Bahrul Hayat dalam hand out pelatihan Calon
kepala sekolah (2000:6), maka sekolah harus :
1.
Menekankan pada kualitas hasil belajar
2.
Hasil kerja siswa dimonitor secara terus menerus
3.
Informasi dan data dari sekolah  dikumpulkan  dan dianalisis untuk memperbaiki
proses di sekolah.
4.
Semua  pihak  mulai kepala sekolah, guru,  pegawai administrasi, dan juga orang
tua  siswa  harus  memiliki  komitmen  untuk  secara  bersama  mengevaluasi  kondisi
sekolah yang kritis dan berupaya untuk memperbaiki.
d. Quality control
Suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai
dengan standar. Quality control memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga
dapat ditentukan penyimpangan kualitas yang terjadi.
D. Manajemen Mutu Terpadu Di Sekolah
Manajemen  Mutu  Terpadu  yang  diterjemahkan  dari  Total  Quality  Management  (TQM)  atau
disebut  pula Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah  suatu pendekatan  mutu  pendidikan melalui
peningkatan  mutu  komponen  terkait.  M.  Jusuf  Hanafiah,  dkk  (1994:4)  mendefinisikan
Pengelolaan Mutu Total (PMT) adalah suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis
dalam  menyelenggarakan  suatu  organisasi,  yang  mengutamakan  kepentingan  pelanggan.
pendekatan  ini  bertujuan  untuk  meningkatkan  dan  mengendalikan  mutu.  Sedang  yang
dimaksud dengan  Pengeloaan  Mutu Total  (PMT)  Pendidikan tinggi (bisa pula sekolah) adalah
cara  mengelola  lembaga  pendidikan  berdasarkan  filosofi  bahwa  meningkatkan  mutu  harus
diadakan  dan  dilakukan  oleh  semua  unsur  lembaga  sejak  dini  secara  terpadu
berkesinambungan  sehingga  pendidikan  sebagai  jasa  yang  berupa  proses  pembudayaan
sesuai  dengan dan  bahkan melebihi  kebutuhan  para  pelanggan  baik  masa kini  maupun yang
akan datang.
Komponen  yang  terkait  dengan  mutu  pendidikan  yang  termuat  dalam  buku  Panduan
Manajemen Sekolah (2000: 191) adalah 1) siswa :  kesiapan dan motivasi belajarnya, 2) guru :
kemampuan  profesional,  moral  kerjanya  (kemampuan  personal),  dan  kerjasamanya
(kemampuan  social).  3)  kurikulum  :  relevansi  konten  dan  operasionalisasi  proses
pembelajarannya,  4)  dan,  sarana  dan  prasarana  :  kecukupan  dan  keefektifan  dalam
mendukung proses pembelajaran, 5) Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan
tinggi)  :  partisipasinya  dalam  pengembangan  program-program  pendidikan  sekolah.  Mutu
komponen-komponen tersebut di atas menjadi fokus perhatian kepala sekolah.
Adapun  prinsip  dari  MMT  dalam  buku  tersebut  yaitu  selama  ini  sekolah  dianggap  sebagai
suatu  Unit  Produksi,  dimana  siswa sebagai  bahan  mentah  dan  lulusan  sekolah  sebagai hasil
produksi.  Dalam  MMT  sekolah  dipahami  sebagai  Unit  Layanan  Jasa,   yakni  pelayanan
pembelajaran.
Sebagai  unit  layanan  jasa,  maka  yang  dilayani  sekolah  (pelanggan  sekolah  )  adalah:  1)
Pelanggan internal : guru, pustakawan, laboran,  teknisi dan  tenaga administrasi, 2) Pelanggan
eksternal  terdiri  atas :  pelanggan  primer  (siswa), pelanggan sekunder  (orang  tua, pemerintah
dan masyarakat), pelanggan tertier (pemakai/penerima lulusan baik diperguruan tinggi maupun
dunia usaha).
E. Permasalahan
Masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen peningkatan mutu pendidikan
sebagaimana dikemukakan oleh Hanafiah, dkk adalah : pertama sikap mental para pengelola
pendidikan, baik yang memimpin maupun yang dipimpin. Yang dipimpin bergerak karena
perintah atasan, bukan karena rasa tanggung jawab. Yang memimpin sebaliknya, tidak
memberi kepercayaan, tidak memberi kebebasan berinisiatif, mendelegasikan wewenang.
Masalah kedua adalah tidak adanya tindak lanjut dari evaluasi program. Hampir semua
program dimonitor dan dievaluasi dengan baik, Namun tindak lanjutnya tidak dilaksanakan.
Akibatnya pelaksanaan pendidikan selanjutnya tidak ditandai oleh peningkatan mutu.
Masalah ketiga adalah gaya kepemimpinan yang tidak mendukung. Pada umumnya pimpinan
tidak menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap keberhasilan kerja stafnya. Hal ini
menyebabkan staf bekerja tanpa motivasi.   Masalah keempat adalah kurangnya rasa memiliki
pada para pelaksana pendidikan. Perencanaan strategis yang kurang dipahami para
pelaksana, dan komunikasi dialogis yang kurang terbuka. Prinsip melakukan sesuatu secara
benar dari awal belum membudaya. Pelaksanaan pada umumnya akan membantu sustu
kegiatan, kalau sudah ada masalah yang timbul. Hal inipun merupakan kendala yang cukup
besar dalam peningkatan dan pengendalian mutu. (M. Jusuf Hanafiah dkk, 1994:8).
F. Analisis Masalah Dan Pemecahan Masalah
Sikap mental bawahan yang bekerja bukan atas tanggung jawab, tetapi hanya karena
diperintah atasan akan membuat pekerjaan yang dilaksanakan  hasilnya tidak optimal. Guru
hanya bekerja berdasarkan petunjuk dari atas, sehingga guru tidak bisa berinisitiaf sendiri.
Sementara itu pimpinan sendiri punya sikap mental yang negatif dimana ia tidak bisa
memberikan kesempatan bagi bawahan untuk berkarir dengan baik, bawahan harus mengikuti
pada petunjuk atasan, bawahan yang selalu dicurigai, bawahan yang tidak bisa bekerja sesuai
dengan caranya. Kenyatan ini karena profil kepala sekolah yang belum menampilkan gaya
entrepeneur dan gaya memimpin situasional.
Penelitian Usman (1996) menyimpulkan bahwa pelaksanaan Pengembangan Sekolah
Seutuhnya (PSS) di SMK mengalami kegagalan karena kepala sekolahnya masih cenderung
manampilkan gaya kepemimpinan otoriter, hal ini karena lemahnya kemandirian sekolah akibat
pembinaan pemerintah yang sangat sentralistik. Birokratik, formalistik, konformistik, uniformistik
dan mekanistik. Pembinaan yang demikian ini tidak memberdayakan  potensi sekolah.
Akibatnya, setiap hierarki yang berada di bawah kekuasaan bersikap masa bodoh, apatis, diam
supaya aman, menunggu perintah, tidak kreatif dan tidak inovatif, kurang berpartisipasi dan
kurang bertanggung jawab, membuat laporan asal bapak senang dan takut mengambil resiko.
Kelemahan sistem sentralistik  dengan komunikasi dari atas ke bawah lebih menekankan
fingsinya sebagai line of command dan tidak fungsinya sebagai line of services, hal ini
tampaknya merintangi perkembangan-perkembangan potensi SDM untuk memcahkan
masalah-masalah khusus on the spot (Sutisna, 1972 dalam Husaini Usman, 2001).Hal tersebut
merupakan penghalang dalam pelaksanaan manajemen mutu pendidikan, maka solusinya
adalah dengan diadakannya penerapan pendidikan yang tidak sentralistik, sehingga pola
manajemen pendidikan dapat disesuaikan dari pola lama ke pola baru.
Program  peningkatan  mutu  pendidikan  tidak  akan  jalan  jika  setelah  diadakannya  monitoring
dan evaluasi tanpa ditindaklanjuti. Fungsi pengawasan (controlling) dalam manajemen berguna
untuk  membuat  agar  jalannya  pelaksanaan  manajemen  mutu  sesuai  dengan  rencana  yang
telah ditentukan sebelumnya. Pengawasan bertujuan untuk menilai  kelebihan dan kekurangan.
Apa-apa  yang  salah  dintinjau  ulang  dan  segera  diperbaiki.   Tidak  adanya  tindak  lanjut  bisa
disebabkan karena rendahnya etos kerja para pengelola pendidikan, iklim organisasi yang tidak
menyenangkan.  Mengenai  etos  kerja  Pidarta  (1998),  mengutip  hasil  penelitian  Internasional
bahwa  Indonesia  sebagai  bangsa  termalas  nomor  tiga  dari  42  negara  termalas  di  dunia.
Temuan  Pidarta  tersebut  mendukung  temuan  Muchoyar  (1995,  dan  Rasyid,  1995  dalam
Husaini Usman) yang menyatakan etos kerja dosen dan karyawan IKIP cenderung rendah.
Agar  program   dapat  dimonitor  dan  ditindaklanjuti  maka  perlu  melibatkan  semua  pihak  untuk
berpartisipasi  dalam  pengambilan  keputusan.  Pengambilan  keputusan  partisipatif  ialah  suatu
cara  pengambilan  keputusan  yang  terbuka  dan  demokratis  yang  melibatkan   seluruh
stakeholders  di  dewan  sekolah.  Asumsinya  jika  seseorang  diundang  untuk  pengambilan
keputusan,  maka  ia  kan  merasa  dihargai,  dilibatkan,  memiliki,  bertanggung  jawab.  Pelibatan
stakeholders  didasarkan  keahlian,  batas  kewenangan,  dan  relevansinyan  dengan  tujuan
pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang tidak mendukung, akan mengakibatkan gagalnya pelaksanaan
manajemen peningkatan mutu. Kepala sekolah harus senantiasa memahami sekolah sebagai
suatu sistem organic. Untuk itu kepala sekolah harus lebih berperan sebagai pemimpin
dibandingkan sebagai manager. Sebagai leader maka kepala sekolah harus :
a.   Lebih banyak mengarahkan daripada mendorong atau memaksa
b.   Lebih bersandar pada kerjasama dalam menjalankan tugas dibandingkan bersandar pada
kekuasaan atau SK.
c.   Senantiasa menanamkan kepercayaan pada diri guru dan staf administrasi. Bukannya
menciptakan rasa takut.
d.   Senantiasa menunjukkan bagaimana cara melakukan sesuatu daripada menunjukkan
bahwa ia tahu sesuatu.
e.   Senantiasa mengembangkan suasana antusias bukannya mengembangkan suasana yang
menjemukan
f.    Senantiasa memperbaiki kesalahan yang ada daripada menyalahkan kesalahan pada
seseorang, bekerja dengan penuh ketangguhan bukannya ogah-ogahan karena serba
kekurangan(Boediono,1998).
Menurut Poernomosidi Hadjisarosa (1997 dalam slamet, PH, 2000), kepala sekolah merupakan
salah satu sumberdaya sekolah yang disebut sumberdaya manusia jenis manajer (SDM-M)
yang memiliki tugas dan fungsi mengkoordinasikan dan menyerasikan sumberdaya manusia
jenis pelaksana (SDM-P) melalui sejumlah input manajemen agar SDM-P menggunakan
jasanya untuk bercampur tangan dengan sumberdaya selebihnya (SD-slbh), sehingga proses
belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik untuk menghasilkan output yang diharapkan.
Secara umum, karakteristik kepala sekolah tangguh dapat dituliskan sebagai berikut (Slamet,
PH,2000) :
Kepala sekolah: (a) memiliki wawasan jauh kedepan (visi) dan tahu tindakan apa yang harus
dilakukan (misi) serta paham benar tentang cara yang akan ditempuh (strategi); (b) memiliki
kemampuan mengkoordinasikan dan menyerasikan seluruh sumberdaya terbatas yang ada
untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan sekolah (yang umumnya tak terbatas);
(c) memiliki kemampuan mengambil keputusan dengan terampil (cepat, tepat, cekat, dan
akurat); (d) memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan
dan yang mampu menggugah pengikutnya untuk melakukan hal-hal penting bagi tujuan
sekolahnya; (e) memiliki toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang dan tidak mencari
orang-orang yang mirip dengannya, akan tetapi sama sekali tidak toleran terhadap orang-orang
yang meremehkan kualitas, prestasi, standar, dan nilai-nilai; (f) memiliki kemampuan
memerangi musuh-musuh kepala sekolah, yaitu ketidakpedulian, kecurigaan, tidak membuat
keputusan, mediokrasi, imitasi, arogansi, pemborosan, kaku, dan bermuka dua dalam bersikap
dan bertindak.
1. Kepala sekolah menggunakan “pendekatan sistem” sebagai dasar cara berpikir, cara
mengelola, dan cara menganalisis kehidupan sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah harus
berpikir sistem (bukan unsystem), yaitu berpikir secara benar dan utuh, berpikir secara runtut
(tidak meloncat-loncat), berpikir secara holistik (tidak parsial), berpikir multi-inter-lintas disiplin
(tidak parosial), berpikir entropis (apa yang diubah pada komponen tertentu akan berpengaruh
terhadap komponen-komponen lainnya); berpikir “sebab-akibat” (ingat ciptaan-Nya selalu
berpasang-pasangan); berpikir interdipendensi dan integrasi, berpikir eklektif (kuantitatif +
kualitatif), dan berpikir sinkretisme.
2.   Kepala sekolah memiliki input manajemen yang lengkap dan jelas, yangditunjukkan oleh
kelengkapan dan kejelasan dalam tugas (apa yang harus dikerjakan, yang disertai fungsi,
kewenangan, tanggungjawab, kewajiban, dan hak), rencana (diskripsi produk yang akan
dihasilkan), program (alokasi sumberdaya untuk merealisasikan rencana), ketentuan-
ketentuan/limitasi (peraturan perundang-undangan, kualifikasi, spesifikasi, metoda kerja,
prosedur kerja, dsb.), pengendalian (tindakan turun tangan), dan memberikan kesan yang baik
kepada anak buahnya.
3.  Kepala sekolah memahami, menghayati, dan melaksanakan perannya sebagai manajer
(mengkoordinasi dan menyerasikan sumberdaya untuk mencapai tujuan), pemimpin
(memobilisasi dan memberdayakan sumberdaya manusia), pendidik (mengajak nikmat untuk
berubah), wirausahawan (membuat sesuatu bisa terjadi), penyelia (mengarahkan, membimbing
dan memberi contoh), pencipta iklim kerja (membuat situasi kehidupan kerja nikmat),
pengurus/administrator (mengadminitrasi), pembaharu (memberi nilai tambah), regulator
(membuat aturan-aturan sekolah), dan pembangkit motivasi (menyemangatkan). Catatan:
manajer tangguh, menurut hasil-hasil penelitian kelas kakap dunia, paling tidak memiliki
sejumlah kompetensi seperti berikut. Menurut Enterprising Nation (1995), manajer tangguh
memiliki delapan kompetensi, yaitu: (a) people skills, (b) strategic thinker, (c) visionary, (d)
flexible and adaptable to change, (e) self-management, (f) team player, (g) ability to solve
complex problem and make decisions, and (h) ethical/high personal standards. Sedang
American Management Association (1998) menuliskan 18 kompetensi yang harus dimiliki
manajer tangguh, yaitu: (a) efficiency orientation, (b) proactivity, (c) concern with impact, (d)
diagnostic use of concepts, (e) use of unilateral power, (f) developing others, (g) spontaneity,
(h) accurate self-assessment, (i) self-control, (j) stamina and adaptability, (k) perceptual
objectivity, (l) positive regard, (m) managing group process, (n) use of sosialized power, (o)
self-confidence, (p) conceptualization, (q) logical thought, and (r) use of oral presentation.
4.  Kepala sekolah memahami, menghayati, dan melaksanakan dimensi-dimensi tugas (apa),
proses (bagaimana), lingkungan, dan keterampilan personal, yang dapat diuraikan sebagai
berikut: (a) dimensi tugas terdiri dari: pengembangan kurikulum, manajemen personalia,
manajemen kesiswaan, manajemen fasilitas, pengelolaan keuangan, hubungan sekolah-
masyarakat, dsb; (b) dimensi proses, meliputi pengambilan keputusan, pengelolaan
kelembagaan, pengelolaan program, pengkoordinasian, pemotivasian, pemantauan dan
pengevaluasian, dan pengelolaan proses belajar mengajar; (c) dimensi lingkungan meliputi
pengelolaan waktu, tempat, sumberdaya, dan kelompok kepentingan; dan (d) dimensi
keterampilan personal meliputi organisasi diri, hubungan antar manusia, pembawaan diri,
pemecahan masalah, gaya bicara dan gaya menulis (Lipham, 1974; Norton, 1985).
5.    Kepala sekolah mampu menciptakan tantangan kinerja sekolah (kesenjangan antara
kinerja yang aktual/nyata dan kinerja yang diharapkan). Berangkat dari sini, kemudian
dirumuskan sasaran yang akan dicapai oleh sekolah, dilanjutkan dengan memilih fungsi-fungsi
yang diperlukan untuk mencapai sasaran, lalu melakukan analisis SWOT (Strength, Weaknes,
Opportunity, Threat) untuk menemukan faktor-faktor yang tidak siap (mengandung persoalan),
dan mengupayakan langkah-langkah pemecahan persoalan. Sepanjang masih ada persoalan,
maka sasaran tidak akan pernah tercapai.
6.    Kepala sekolah mengupayakan teamwork yang kompak/kohesif dan cerdas, serta
membuat saling terkait dan terikat antar fungsi dan antar warganya, menumbuhkan
solidaritas/kerjasama/kolaborasi dan bukan kompetisi sehingga terbentuk iklim kolektifitas yang
dapat menjamin kepastian hasil/output sekolah.
7.  Kepala sekolah menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan kreativitas dan memberikan
peluang kepada warganya untuk melakukan eksperimentasi-eksperimentasi untuk
menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru, meskipun hasilnya tidak selalu benar (salah).
Dengan kata lain, kepala sekolah mendorong warganya untuk mengambil dan mengelola resiko
serta melindunginya sekiranya hasilnya salah.
8.    Kepala sekolah memiliki kemampuan dan kesanggupan menciptakan sekolah belajar .
9.  Kepala sekolah memiliki kemampuan dan kesanggupan melaksanakan Manajemen
Berbasis Sekolah sebagai konsekuensi logis dari pergeseran kebijakan manajemen, yaitu
pergeseran dari Manajemen Berbasis Pusat menuju Manajemen Berbasis Sekolah (dalam
kerangka otonomi daerah). Untuk lebih jelasnya, lihat Gambar 2 “Pergeseran Kebijakan dari
Manajemen Berbasis Pusat menuju Manajemen Berbasis Sekolah” (Slamet PH, 2000).
10. Kepala sekolah memusatkan perhatian pada pengelolaan proses belajar mengajar sebagai
kegiatan utamanya, dan memandang kegiatan-kegiatan lain sebagai penunjang/pendukung
proses belajar mengajar. Karena itu, pengelolaan proses belajar mengajar dianggap memiliki
tingkat kepentingan tertinggi dan kegiatan-kegiatan lainnya dianggap memiliki tingkat
kepentingan lebih rendah.
11. Kepala sekolah mampu dan sanggup memberdayakan sekolahnya (Slamet PH, 2000),
terutama sumberdaya manusianya melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan
sumberdaya.
Kurangnya rasa memilikipada para pelaksana pendidikan. Perencanaan strategis yang kurang
dipahami para pelaksana, dan komunikasi dialogis yang kurang terbuka. Prinsip melakukan
sesuatu secara benar dari awalï belum membudaya merupakan penghalang dalam
pelaksanaan manajemen peningkatan mutu. Untuk itu perlu ditanamkan kepada warga sekolah
untuk mempunyai asa memiliki bangga terhadap sekolahnya. Hal ini bisa terlaksana jika para
warga sekolah itu merasa puas terhadap pelayanan sekolah.
Dalam MMT (Manajemen Mutu Terpadu) keberhasilan sekolah diukur dari tingkat kepuasan
pelanggan, baik internal maupun eksternal. Sekolah dikatakan berhasil jika mampu
memberikan pelayanan sama atau melebihi harapan pelanggan. Dilihat jenis pelanggannya,
maka sekolah dikatakan berhasil jika :
1.
Siswa  puas  dengan  layanan  sekolah,  antara  lain  puas  dengan  pelajaran  yang
diterima,  puas  dengan  perlakuan  oleh  guru  maupun  pimpinan,  puas  dengan  fasilitas
yang disediakan sekolah. Pendek kata, siswa menikmati situasi sekolah.
2.
Orang  tua  siswa  puas  dengan  layanan  terhadap  anaknya  maupun  layanan
kepada  orang  tua,  misalnya  puas  karena  menerima  laporan  periodik  tentang
perkembangan siswa maupun program-program sekolah.
3.
Pihak  pemakai/penerima  lulusan  (perguruan  tinggi,  industri,  masyarakat)  puas
karena menerima lulusan dengan kualitas sesuai harapan
4.
Guru  dan  karyawan  puas  dengan  pelayanan  sekolah,  misalnya  pembagian
kerja,  hubungan  antarguru/karyawan/pimpinan,  gaji/honorarium,  dan  sebagainya.
(Panduan Manajemen Sekolah, 2000:193).
G. Kesimpulan Dan Saran
Berdasarkan uraian diatas maka dapat penulis disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan rendahnya mutu SDM pada era otomomi daerah dan menyongsong era global,
maka perlu bagi pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. Dalam perbaikan
mutu pendidikan tersebut manajemen  mutu yang diadaptasi dari Total Quality Management
yang ada Industri Modern, layak untuk diadaptasai dalam Manajemen Pendidikan. Pada
prinsipnya manajemen mutu ini berbasis sekolah memberdayakan semua komponen sekolah,
dan sekolah sebagai unit produksi yang melayani siswa, orang tua, pihak pemakai/penerima
lulusan, dan guru/karyawan.
2.   Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan manajemen peningkatan mutu adalah sikap
mental para pengelola pendidikan, tidak adanya tindak lanjut dari evaluasi program, gaya
kepemimpinan yang tidak  mendukung, kurangnya rasa memiliki para pelaksana pendidikan.
Dan belum membudayanya prinsip melakukan sesuatu secara benar dari awal. Kendala-
kendala itu disebabkan oleh adanya kepemimpinan yang tidak berjiwa entrepeneur dan tidak
tangguh, adanya sentralistrik manajemen pendidikan, dan rendahnya etos kerja apara
pengelola, kurangnya melibatkan semua pihak untuk berpartisipasi.
Dari kesimpulan  tersebut penulisan ini perlu penulis sarankan sebagai berikut :
1.     Manajemen Peningkatan Mutu  yang sering di seminarkan dan dikenalkan pada dunia
pendidikan, ternyata banyak warga sekolah terutama guru yang belum tahu, kenal, dan
memahami. Kebanyakan hanya diketahui oleh kepala sekolah, dan calon kepala sekolah.
Disarankan agar hal ini disebarluaskan dan betul-betul bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah.
2.     Perlu ditingkatkan etos kerja, motivasi, kerjasama tim, moral kerja yang baik, punya rasa
memiliki, mau bekerja keras agar Manajemen Mutu Pendidikan dapat  terlaksana secara
optimal sehingga mampu menghasilkan Mutu SDM. Disamping itu diperlukan seorang kepala
sekolah yang berjiwa pemimpin dengan visi yang baik.
Pamekasan, 29 Nov ember 2007
DAFTAR PUSTAKA :
Anonim, 2000. Panduan Manajemen Sekolah, Depdiknas, Dikmenum
Anonim, 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan/Kultur Sekolah, Depdik nas, hand
out pelatihan calon kepala sekolah, Direktorat Sekolah lanjutan Pertama, 2000
Gaspersz,  Vincent.  2000.  Penerapan  Total  Management  In  Education  (TQME)  Pada
Perguruan  Tinggi  di  Indonesia,  Jurnal  Pendidikan  (online),  Jilid  6,  No.  3  (
diakses 20 Januari 2001).
Hanafiah, M. Jusuf, dk k, 1994. Pengelolaan Mutu Total Pendidikan Tinggi, Badan  Kerjasama
Perguruan Tinggi Negeri
Nasution, MN, 2000. Manajemen Mutu Terpadu, Ghalia Indonesia, Jakarta
Slamet,  PH.  2000.  Karakteristik  Kepala  Sekolah  Yang  Tangguh,  Jurnal  Pendidikan,  Jilid  3,
No. 5 (online) (
diak ses 20 Januari 2001).
Usman, Husaini,  Peran  Baru  Administrasi Pendidikan dari Sistem Sentralistik  Menuju  Sistem
Desentralistik, dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Februari 2001, Jilid 8, Nomor 1.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: