Model Pembelajaran Alam Sekitar
Perintis model pembelajaran ini adalah Fr. Finger (1808-1888) diJerman dengan “heimatkunde” (pengajaran alam sekitar), dan J.Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan “Het Volle Leven” (kehidupan senyatanya). Dalam model pembelajaran ini alam sekitar sebagai fundamental pendidikan dan pengajaran memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang dibebrikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil dari alam sekitar. Mengacu pada konsep pendidikan alam sekitar Tirtarahardja dan Sula (dalam Sagala, 2010:180) berpendapat bahwa beberapa tahun terakhir telah ditetapkan adanya materi pelajaran muatan lokal dalam kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar. Dengan kurikulum muatan lokal tersebut diharapkan anak semakin dekat dengan alam sekitar dan masyarakat, sehingga dimungkinkan anak akan lebih menghargai, mencintai dan melestarikan lingkungan alam sekitar sebagai sumber kehidupannya.
Prinsip-prinsip J.Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan “Het Volle Leven” (kehidupan senyatanya)
- Anak harus mengetahui bendanya terlebih daluhu sebelum mendengar namanya.
- Pengajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya.
- Harus diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya, agar siswa paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya.
2.2.4 Pendekatan Tematik (Thematic Approach)
Menurut Mulyasa (2008: 104) Pendekatan Tematik (Thematic Approach) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yag digunakan dalam implementasi kurikulum 2004, terutama di Taman Kanak – Kanak dan Raudhatul Athfal (TK dan RA), serta pada kelas rendah di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidayah (SD dan MI).
Pendekatan tematik merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi peserta didik dalam proses belajar. Oleh karena itu pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu (integrated). Perlunya pendekatan tematik pada pembelajaran yang mempunyai korelasi tinggi ialah kenyataan bahwa ”Dunia nyata” itu menujukkan adanya keterpaduan dan bahwa peserta didik ternyata lebih baik bila belajar menghubung – huungkan berbagai faktor yang ada.
Pendekatan tematik bertujuan :
a. Membentuk pribadi yang harmonis dan sanggup bertindak dalam menghadapi berbagai situasi yang memerluka keterampilan pribadi.
b. Menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan peserta didik.
c. Memperbaiki dan mengatasi kelemahan – kelemahan yang terdapat pada metode mengajar hafalan.
Pelaksanaan pendekatan tematik secara optimal perlu ditunjang oleh kondisi sekolah sebagai berikut :
a. Guru mesti berpartisipasi dalam sebuah tim serta mempunyai tanggung jawab untuk menyukseskan tujuan tim
b. Guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan program pembelajaran tematis pada jadwal yang telah ditentukan.
c. Peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pendekatan tematik harus tersedia, baik lingkungan sekolah maupun berupa pinjaman dari luar.
d. Pelaksanaan pendekatan tematik harus ada dalam struktur sekolah, sehingga guru dapat menggunakan berbagai sarana sekolah yang diperlukan.
Pendekatan tematik dapat dilaksanakan oleh seorang guru, jadi semua bahan ajar menjadi tanggung jawabnya. Dapat pula dilaksanakan beberapa orang guru secara kolektif, namun harus dilandasi dengan kelancaran komunikasi, semangat kerjasama, dan mengadakan koordinasi yang baik di antara mereka. Tema yang dipilih hendaknya diangkat dari lingkungan kehidupan peserta didik, agar pembelajaran menjadi hidup dan tidak kaku.
Model pembelajaran yang dipakai dalam pendekatan Tematik sama dengan judulnya yaitu :
Filed under: P G S D


















