DASAR-DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA


DASAR-DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

  1. A. Dasar Pikir Dalil Rasional

Secara yuridis konstisional Negara Indonesia berdasarkan pancasila yang termaksud dab pembukaan UUd 45 alinea ke-4 Ketentuan yuridis kontisional mengandung makna baik formal maupun fungsional menyatakan :

1)      Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara

2)      Pancasila adalah norma-norma dasar dan norma-norma tertinggi dalam Negara R.I

3)      Pancasila adalah ideology Negara

4)      Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional

5)      Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa.

Nilai-nilai dalam social budaya Indonesia :

a)      Kesadaran mengakui adanya tuhan dan kepercayaan Negara

b)      Kesadaran keluarga

c)      Kesadaran musyawarah mufakat dalam akhlak

d)      Kesadaran gotong royong, tolong menolong

e)      Kesadaran tenggang rasa / tepa selera.

 

  1. B. Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila

a)      Hubungan masyarakat dan Pendidikan

Pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan modern pula, pendidikan yang main dan modern hanya diselenggarakan oleh masyarakat yang maju dan modern, secara teoritis disebut hubungan korelasi positif.

Manusia sebagai individual, yang menentukan sikap dan wawasannya kebijaksanaan dan strategi serta tujuan dan sasaran yang hendak ditempuhnya. Pertimbangan dan penentuan ini diambil berdasarkan keyakinan, motivasi dan tujuan dalam hidupnya, maka manusia sebagai subjek individual, pendidikan adalah suatu usaha, aktifitas yang dilakukan menurut tujuan dan kehendaknya (cita karsa) secara mandiri. Bagi anak tujuan dan kehendak belajar dipenuhi oleh factor lingkungan, orang tua / keluarga. Demikian pula dengan masyarakat ! bangsa dan Negara factor luar adalah kondisi dan tantangan zaman dan potensi-potensi yang dimiliki (sumber daya alam, sumber daya manusia dan kebudayaan).

Manusia pribadi atau masyarakat memiliki keyakinan dan kepercayaan yang tercermin dalam tujuan (cita-cita) dan hasrat luhur atau kehendak berdasarkan cita dan karsa memilih dan menerapkan aktifitas / fungsi kehidupan atau usaha mendidik dirinya. Pendidikan merupakan fungsi manusia dan masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan dirinya, martabat dan kepribadiannya. Hubungan masyarakat dengan pendidikan itu sebagai hubungan fungsional berarti :

a)      Bahwa masyarakat atau Negara secara sadar dan mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur akan dicapai melalui kebijakan, lembaga dan strategi tertentu.

b)      Pendidikan suatu lembaga, perwujudannya secara nasional adalah system pendidikan nasional yang bersumber dan ditentukan oleh cita karsa manusia menurut keyakinan dan pandangan hidup dan filsafat Negara sebagai sumber nilai cita dan kepribadian nasionalnya

 

  1. C. Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan ialah nilai dan keyakinan-keyakinan filosofis yang menjiwai dan mendasari dan memberikan identitas suatu system pendidikan nilai-nilai itu bersumber pada pancasila yang dilaksanakan pada berbagai system kehidupan nasional secara keseluruhan.

Fungsi pendidikan ialah membangun potensi Negara, khususnya melestarikan kebudayaan dan kepribadian bangsa yang menentukan eksitensi dan martabat bangsa. Pendidikan nasional harus dijiwai oleh filsafat pendidikan pancasila. Filsafat pendidikan pancasila merupakan tuntunan nasional, karena cita dan karsa bangsa atau tujuan nasional dan harsat luhur rakyat tersimpul dalam pembukaan UUD 45 sebagai perwujudan jiwa dan jiwa pancasila, cita dan karsa ini diusahakan secara melembaga didalam pendidikan nasional sebagai system bertumpu dan dijiwai oleh suatu keyakinan, pandangan hidup atau filosofi tertentu. Maka melalui system pendidikan pancasila akan terjalin cita dan karsa nasional dalam membina watak dan kepribadian dan martabat pancasila dalam subjek pribasi manusia Indonesia seutuhnya.

 

 

 

 

 

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME


ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME

Aliran pada esensialisme adalah pendidikan harus didasarkan nilai-nalai kebudayaan yang telah ada semenjak awal peradaban umat manusia.

1) Pandangan antilogi esensialisme

a)      Sentesa ide idealism dan realism tentang hakekat realita berarti esensialisme mengakui adanya objektif disamping konsep-konsep.

b)      Aliran esensialisme dipengaruhi penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern

c)      Penafsiran Spritual atas sejarah

d)      Paham Makrokosmos dan Mikrokosmos

Paham makrokosmos adalah keseluruhan semestanya dalam suatu design dan kesatuan menurut teori kosmologi. Paham mikrokosmos adalah sebahagian tunggal suatu fakta yang terpisahg keseluruhan baik tingkat umum pribadi manusia maupun lembaga.

2) Pandangan Epistemologi Esensialisme

a)      Konstaversi Jasmaniah rohaniah perbedaan idealism dan realism

b)      Idealism adalah manusia mengetahui sesuatu hanya didalam melalui ide, rohaniah sedangkan realism adalah manusia mengetahui sesuatu realita di dalam melalui jasmani dan rohani.

c)      Apporocch

  • Personalisme adalah manusia bagian dan rasio tuhan yang maha sempurna.
  • Approach personalisme adalah manusia tak mungkin mengetahui sesuatu yang hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamalan ( Men-Unit Th Green ).
  • Bagi hegel adalah mental tercermin pada hokum logika (Mikrokosmos) hokum alam (Makrokosmos), hokum dialetika berfikir, hokum perkembangan sejarah dan kebudayaan manusia (Teori dinamis).

 

3) Appoach Realisme Pada Pengetahuan

Realism adalah menafsirkan manusia dalam rangka hokum alam. Cara menafsirkan manusia dalam realism dibedakan :

a)      Menurut Teori Associationisme

Teori ini membicarakan bahwa jiwa adalah penginderaan dan pengamatan

b)      Menurut Teori behaviorisme kehidupan mental tercermin pada tingkah laku(behavior).

Hokum behaviorisme adalah bahwa manusia ditentukan semata  mata oleh hokum. Hokum idealisme adalah bahwa manusia seluruhnya ditentukan oleh hokum-hukum rohanuah.

c)      Menurut Teori Conectionisme

Semua makhluk hidup termasuk manusia terbentuk tingkah lakunya pada pola-pola hubungan antar sirmulasi dan respon kulikulum sangat mengutamakan proses.

 

4) Tipe Epistimologi Realisme

  1. Pandangan Axiollogi
  • Teori nilai menurut idealism
  • Teori nilai menurut realism

Teori nilai menurut Idealisme menyatakan bahwa hokum-hukum efisiensi adalah hokum kusmos, nilai-nilai yang terkandung didalamnya adalah :

(a)    Teori nilai idealism modern

(b)   Teori social idealism

(c)    Teori estetika idealism

Teori ini menurut realism bahwa sumber-sumber pengalaman manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Kecenderungan ini melahirkan :

(a)    Etika determinisme

(b)   Teori social realism

(c)    Teori estika realisme

 

  1. Peranan sekolah

Menurut esensialisme sekolah berfungsi untuk warga Negara supaya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga social yang ada didalam masyarakat.

 

  1. Peranan Aliran Esensialisme
  • Sebagai sako guru dalam kebudayaan modern
  • Sebagai pemeliharaan kebudayaan (warisan kebudayaan)

 

 

  1. Fungsi pemeliharaan Kebudayaan

1)      Membina sikap jiwa untuk menjunjung tinggi dan menyesuaikan terhadap hokum-hukum dan kebenaran yang ditemukan manusia di alam.

2)      Hukum harus dipahami dalam konteks dan kebudayaan.

 

PERENCANAAN MUTU PENDIDIKAN OLEH KEPALA SEKOLAH


LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN MUTU

OLEH KEPALA SEKOLAH

 

Langkah-langkah perencanaan mutu oleh kepala sekolah sangatlah penting.Tujuannya agar   pengembangan mutu lembaga yang dipimpinnya dapat mencapai hasil optimum melalui proses evaluasi secara terukur.

a.   Pembatasan Lingkup Masalah

Mengetahui hakekat masalah mutu yang dihadapi di sekolah adalah penting.Hal ini untuk membedakan apakah situasi baru yang timbul memang suatu masalah atau hanya gejala saja.Lalu dari batasan masalah ini dapat diuraikan lebih lanjut lagi dalam tahap pencarian fakta faktor penyebab dari masalah.Misalkan masalah yang menyangkut kinerja guru yang cenderung menurun dari waktu ke waktu.Masalah ini dapat dibatasi lagi hanya dari segi motivasi,kepuasan kerja dan produktivitas kerja.

b.   Pengumpulan Data dan Analisis Data

Langkah berikutnya  adalah pengumpulan data dan atau informasi. Data dan informasi ini diperlukan kepala  sekolah dalam usaha untuk mengantisipasi keadaan dan masalah yang mungkin timbul lewat analisis data.

 

Data yang dikumpulkan perlu dibatasi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengembangan mutu lembaga.Fakta dan data yang telah terkumpul,terolah dengan sistematis serta tersimpan hanyalah merupakan alat.Yang lebih penting, apabila fakta dan data tersebut diharapkan mampu menggambarkan potensi-potensi yang sebenarnya.Dari situ dapat digambarkan kondisi dan situasi saat ini. Dalam analisis data tersebut dapat dimunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1.      Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah mutu dalam lembaga pendidikan yang  pernah  dihadapi? Jawaban dari pertanyaan ini akan memungkinkan fakta / data apa saja yang relevan atau diperlukan serta bagaimana urgensinya bagi pendekatan masalah.

2.     Apa yang melatar belakangi rendahnya mutu lembaga tersebut ? Cara pendekatan yang bagaimana yang pernah dibuat dan dilakukan? Siapa petugasnya? Apa  hasilnya dan faktor-faktor yang menyebabkannya? Apa persamaannya dengan kondisi kini?

c.   Identifikasi Kebutuhan

Dari analisis data,kepala sekolah dapat merumuskan kebutuhan lembaga pendidikan yang dipimpinnya misalnya tentang mutu SDM.Identifikasi ini menyajikan suatu elaborasi dari model perencanaan pendidikan yang telah ada.Penilaian kebutuhan khalayak mengacu kepada penentuan dan luasnya kondisi-kondisi yang diinginkan atau yang tidak diinginkan.Identifikasi kebutuhan baik yang dirasakan dan yang tidak dirasakan ini juga tampak sebagai langkah yang paralel dari spesifikasi suatu tujuan perencanaan mutu lembaga pendidikan.

d.   Perumusan Tujuan

Tujuan adalah hasil yang ingin dicapai dari proses perencanaan mutu pendidikan.Sasaran-sasaran khusus dapat dijabarkan dari tujuan umum dan biasanya bersifat kuantitatif dan dapat dicapai dalam perspektif waktu tertentu.Perumusan tujuan menyangkut berbagai segi yaitu : (a) realistis dan  dapat dicapai, (b) ditujukan pada populasi yang terbatas dalam kondisi yang tertentu, (c) adanya kerangka waktu yang jelas, (d) dalam situasi tertentu dan (e) dapat diamati dan diukur. Dalam perumusan tujuan tersebut, kendala-kendala yang membatasinya perlu diperhitungkan seperti dana, SDM.Intinya suatu penentuan tujuan haruslah realistis. Dari perumusan ini maka kegiatan-kegiatan apa yang akan dilakukan dapat dijabarkan.

e.   Perancangan Tindakan Alternatif

Tahap ini mengacu pada pengembangan atau identifikasi dari berbagai cara untuk mencapai tujuan. Masalah-masalah mutu yang sudah diidentifikasikan perlu dicari cara pendekatannya. Dalam banyak cara yang berorientasi pada tujuan dan jangka panjang, maka tindakan-tindakan yang telah lalu perlu dipertimbangkan untuk pengembangan alternatif-alternatif baru.

f.   Pemilihan Tindakan

Dari analisis konsekuensi tindakan alternatif manajer dapat menetapkan mana tindakan alternatif yang kecenderungannya paling tepat untuk mencapai tujuan.Misalnya pengembangan kinerja guru.Dalam pemilihan ini sering dilibatkan kriteria khusus misalnya,waktu,biaya, kemudahan pelaksanaan dan persepsi manajemen atau karyawan.Selain itu juga dipertimbangkan kemampuan dari beragam unit yang terlibat dalam proses pendekatan masalah ini.

 

g.  Penyusunan Rencana Kerja Operasional

Setelah tindakan alternatif diputuskan maka langkah kepala sekolah berikutnya adalah penyusunan rencana operasional. Rencana ini merupakan uraian secara terinci bagaimana cara kerja melaksanakan tindakan alternatif tersebut,termasuk siapa yang  bertugas,dimana dan kapan akan dikerjakan.Mulailah dengan mengidentifikasi prioritas berdasarkan isu paling penting, menetapkan output, melibatkan orang, dan menetapkan skedul kerja termasuk batas waktu pelaksanaan kerja serta pola kordinasinya.

h.     Pelaksanaan Rencana Kerja

Setelah rencana kerja dibuat maka langkah berikutnya adalah pelaksanaan rencana kerja.Tahap ini akan menjawab tujuan dari program rencana secara operasional.Termasuk di dalamnya adalah kegiatan pengendalian dan pengarahan pelaksanaan program sehingga mampu menciptakan suasana kerjasama yang menggairahkan di antara tim pelaksana.

i.     Evaluasi

Evaluasi mengacu kepada penetapan hasil-hasil nyata yang dicapai dengan perangkat tindakan yang dipilih atau dengan rencana kerja tertentu.Dengan evaluasi ingin diketahui sejauh mana hasil yang dicapai telah memenuhi tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Selain itu diketahui seberapa jauh situasi lain di sekitarnya terpengaruh oleh palaksanaan program.Evaluasi dapat dilaksanakan pada aspek proses maupun hasil.

 

j.  Proses Umpan-balik

Akhirnya evaluasi menghasilkan proses umpan balik yang dituangkan dalam proses rencana pendekatan masalah.Hal demikian penting untuk mengetahui seberapa luas tujuan pengembangan mutu lembaga telah dicapai,untuk menetapkan apakah ada tambahan tujuan baru atau perubahan sasaran tujuan,dan untuk mengetahui apakah ada perangkat tindakan alternatif yang baru serta masalah-masalah apa yang telah muncul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN MUTU OLEH KEPALA SEKOLAH


LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN MUTU

OLEH KEPALA SEKOLAH

 

Langkah-langkah perencanaan mutu oleh kepala sekolah sangatlah penting.Tujuannya agar   pengembangan mutu lembaga yang dipimpinnya dapat mencapai hasil optimum melalui proses evaluasi secara terukur.

a.   Pembatasan Lingkup Masalah

Mengetahui hakekat masalah mutu yang dihadapi di sekolah adalah penting.Hal ini untuk membedakan apakah situasi baru yang timbul memang suatu masalah atau hanya gejala saja.Lalu dari batasan masalah ini dapat diuraikan lebih lanjut lagi dalam tahap pencarian fakta faktor penyebab dari masalah.Misalkan masalah yang menyangkut kinerja guru yang cenderung menurun dari waktu ke waktu.Masalah ini dapat dibatasi lagi hanya dari segi motivasi,kepuasan kerja dan produktivitas kerja.

b.   Pengumpulan Data dan Analisis Data

Langkah berikutnya  adalah pengumpulan data dan atau informasi. Data dan informasi ini diperlukan kepala  sekolah dalam usaha untuk mengantisipasi keadaan dan masalah yang mungkin timbul lewat analisis data.

 

Data yang dikumpulkan perlu dibatasi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengembangan mutu lembaga.Fakta dan data yang telah terkumpul,terolah dengan sistematis serta tersimpan hanyalah merupakan alat.Yang lebih penting, apabila fakta dan data tersebut diharapkan mampu menggambarkan potensi-potensi yang sebenarnya.Dari situ dapat digambarkan kondisi dan situasi saat ini. Dalam analisis data tersebut dapat dimunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

1.      Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah mutu dalam lembaga pendidikan yang  pernah  dihadapi? Jawaban dari pertanyaan ini akan memungkinkan fakta / data apa saja yang relevan atau diperlukan serta bagaimana urgensinya bagi pendekatan masalah.

2.     Apa yang melatar belakangi rendahnya mutu lembaga tersebut ? Cara pendekatan yang bagaimana yang pernah dibuat dan dilakukan? Siapa petugasnya? Apa  hasilnya dan faktor-faktor yang menyebabkannya? Apa persamaannya dengan kondisi kini?

c.   Identifikasi Kebutuhan

Dari analisis data,kepala sekolah dapat merumuskan kebutuhan lembaga pendidikan yang dipimpinnya misalnya tentang mutu SDM.Identifikasi ini menyajikan suatu elaborasi dari model perencanaan pendidikan yang telah ada.Penilaian kebutuhan khalayak mengacu kepada penentuan dan luasnya kondisi-kondisi yang diinginkan atau yang tidak diinginkan.Identifikasi kebutuhan baik yang dirasakan dan yang tidak dirasakan ini juga tampak sebagai langkah yang paralel dari spesifikasi suatu tujuan perencanaan mutu lembaga pendidikan.

d.   Perumusan Tujuan

Tujuan adalah hasil yang ingin dicapai dari proses perencanaan mutu pendidikan.Sasaran-sasaran khusus dapat dijabarkan dari tujuan umum dan biasanya bersifat kuantitatif dan dapat dicapai dalam perspektif waktu tertentu.Perumusan tujuan menyangkut berbagai segi yaitu : (a) realistis dan  dapat dicapai, (b) ditujukan pada populasi yang terbatas dalam kondisi yang tertentu, (c) adanya kerangka waktu yang jelas, (d) dalam situasi tertentu dan (e) dapat diamati dan diukur. Dalam perumusan tujuan tersebut, kendala-kendala yang membatasinya perlu diperhitungkan seperti dana, SDM.Intinya suatu penentuan tujuan haruslah realistis. Dari perumusan ini maka kegiatan-kegiatan apa yang akan dilakukan dapat dijabarkan.

e.   Perancangan Tindakan Alternatif

Tahap ini mengacu pada pengembangan atau identifikasi dari berbagai cara untuk mencapai tujuan. Masalah-masalah mutu yang sudah diidentifikasikan perlu dicari cara pendekatannya. Dalam banyak cara yang berorientasi pada tujuan dan jangka panjang, maka tindakan-tindakan yang telah lalu perlu dipertimbangkan untuk pengembangan alternatif-alternatif baru.

f.   Pemilihan Tindakan

Dari analisis konsekuensi tindakan alternatif manajer dapat menetapkan mana tindakan alternatif yang kecenderungannya paling tepat untuk mencapai tujuan.Misalnya pengembangan kinerja guru.Dalam pemilihan ini sering dilibatkan kriteria khusus misalnya,waktu,biaya, kemudahan pelaksanaan dan persepsi manajemen atau karyawan.Selain itu juga dipertimbangkan kemampuan dari beragam unit yang terlibat dalam proses pendekatan masalah ini.

 

g.  Penyusunan Rencana Kerja Operasional

Setelah tindakan alternatif diputuskan maka langkah kepala sekolah berikutnya adalah penyusunan rencana operasional. Rencana ini merupakan uraian secara terinci bagaimana cara kerja melaksanakan tindakan alternatif tersebut,termasuk siapa yang  bertugas,dimana dan kapan akan dikerjakan.Mulailah dengan mengidentifikasi prioritas berdasarkan isu paling penting, menetapkan output, melibatkan orang, dan menetapkan skedul kerja termasuk batas waktu pelaksanaan kerja serta pola kordinasinya.

h.     Pelaksanaan Rencana Kerja

Setelah rencana kerja dibuat maka langkah berikutnya adalah pelaksanaan rencana kerja.Tahap ini akan menjawab tujuan dari program rencana secara operasional.Termasuk di dalamnya adalah kegiatan pengendalian dan pengarahan pelaksanaan program sehingga mampu menciptakan suasana kerjasama yang menggairahkan di antara tim pelaksana.

i.     Evaluasi

Evaluasi mengacu kepada penetapan hasil-hasil nyata yang dicapai dengan perangkat tindakan yang dipilih atau dengan rencana kerja tertentu.Dengan evaluasi ingin diketahui sejauh mana hasil yang dicapai telah memenuhi tujuan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Selain itu diketahui seberapa jauh situasi lain di sekitarnya terpengaruh oleh palaksanaan program.Evaluasi dapat dilaksanakan pada aspek proses maupun hasil.

 

j.  Proses Umpan-balik

Akhirnya evaluasi menghasilkan proses umpan balik yang dituangkan dalam proses rencana pendekatan masalah.Hal demikian penting untuk mengetahui seberapa luas tujuan pengembangan mutu lembaga telah dicapai,untuk menetapkan apakah ada tambahan tujuan baru atau perubahan sasaran tujuan,dan untuk mengetahui apakah ada perangkat tindakan alternatif yang baru serta masalah-masalah apa yang telah muncul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROSPEK KERJA LULUSAN JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Administrasi Pendidikan sangat diperlukan bagi kelangsungan proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Semua itu tidak lepas dari keaktifan orang-orang yang menguasai administrasi dalam sekolah. Orang sering menganggap enteng administrasi tersebut, padahal kalau administrasi dipegang oleh orang-orang yang kurang terampil maka administrasi tersebut akan berantakan. Orang yang memegang administraasi adalah orang yang sudah terlatih dalam bidangnya (orang yang sudah mendapat ilmu/ pelatihan). Administrasi tidak hanya dilakukan dalam waktu tertentu saja tetapi setiap hari secara kontinu.

1

Untuk menjawab tantangan ini didirikan jurusan Administrasi Pendidikan program studi manajemen pendidikan, yang mana lulusan dari jurusan ini diharapkan bisa menjadi pengelola pendidikan, di sekolah atau di dinas pendidikan. Namun fakta dilapangan berkata lain masyarakat merasa sangat asing dengan jurusan ini, seolah-olah ini  adalah jurusan baru padahal administrasi pendidikan sudah ada sejak UNP masih bernama IKIP Padang. Bahkan yang sangat lucu adalah mahasiswa jurusan Administrasi Pendidikan bingung dengan dirinya sendiri dan bahkan yang lebih memilukan adalah mereka malu untuk jujur jika ditanya apa jurusan mereka.

Tiga tahun silam sewaktu memilih jurusan saat mengikuti SPMB dan menjatuhkan pilihan pada jurusan Admnistrasi Pendidikan, yang terbayangkan adalah akan bekerja sebagai pengelola pendidikan di dinas pendidikan atau sekolah. Namun setelah mengikuti perkuliahan di jurusan Administrasi Pendidikan kesimpang siuran itu mulai menghampiri. Ini terlihat dengan fenomena-fenomena tidak adanya suatu kompetensi ilmu yang harus benar-benar dikuasai, semua terasa mengambang, mata kuliah yang satu dengan mata kuliah yang lain terasa tidak singkron. Banyak mahasiswa yang bingung dengan jurusan ini, dampak terburuknya ada mahasiswa yang memutuskan untuk pindah jurusan.

Semua kenyataan diatas terjadi karena belum adanya kepastian prospek kerja untuk lulusan jurusan administrasi pendidikan, oleh karena itulah kami tertarik untuk membahasa permasalahan jurusan administrasi pendidikan dalam makalah ini dengan judul “Prospek Kerja Lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan”.

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :

  1. Memberikan gambaran tentang kompetensi lulusan jurusan administrasi pendidikan,
  2. Agar pemerintah mengetahui tentang pentingnya menempatkan tenaga administrasi yang professional, baik disekolah atau di lembaga yang mengelola pendidikan misalnya dinas pendidikan.

C. Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjembatani para mahasiswa yang mulai pesimis dengan jurusan dalam menyampaikan kegundahan hatinya kepada para pemimpin jurusan, dekanat dan rektor UNP. Tidak ada seditpun dari penulisan makalah ini ingin menjatuhkan salah satu pihak, namun sebaliknya tulisan ini berangkat dari keinginan mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan untuk mengubah image ditengah masyarakat.

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Adminisrasi Pendidikan

Administrasi pendidikan seringkali diartikan secara sempit sebagai semata-mata kegiatan ketatausahaan seperti menyelenggarakan surat menyurat, mengatur dan mencatat penerimaan, penyimpanan, mendokumentasikan kegiatan, mempersiapkan laporan dan sebagainya. Pengertian demikian tidak salah, karena setiap kegiatan administrasi selalu memerlukan kegiatan itu. Hanya saja yang perlu diingat bahwa kegiatan administrasi tidak hanya kegiatan mencatat dalam pegertian tata usaha, tetapi administrasi lebih luas dari itu yang mengandung arti institusional, fungsional, dan sebagai proses untuk mencapai tujuan pendidikan.

Hadari Nawawi dalam Sagala ( 2008:38) mengatakan “ Administrasi pendidikan adalah serangkaian kegiatan atau kesuluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan dalam lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

4

Ngalim Purwanto dalam Sagala (2008:39)  menjelaskan “Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materil, maupun srituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa administrasi pendidikan mempunyai arti yang sangat luas, tidak hanya sebatas kegiatan tata usaha disekolah yang hanya bergelut dengan surat menyurat tapi sebaliknya administrasi pendidikan adalah segenap proses pengerahan dan pengintegrasian segala sesuatu atau potensi dalam suatu aktivitas kelembagaan, baik personal, spiritual dan material, yang bersangkutan denga pencapaian tujuan pendidikan.

Sedangkan yang membedakan administrasi pndidikan dengan administrasi lainnya adalah terletak pada prinsip-prinsip operasionalnya, dan bukan pada prinsip-prinsip operasional. Meskipun untuk memahami administrasi pendidikan  diperlukan pemahaman atau penguasaan, berarti bahwa pengetahuan administrasi lain dapat diterapkan didalam administrasi pendidikan karena prinsip operasionalnya berbeda.

  1. B. Fungsi – Fungsi Administrasi Pendidikan

Berikut akan diuraikan fungsi-fungsi administrasi pendidikan yang juga dapat implementasikan dalam kegiatan pendidikan yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengawasan dalam konteks kegiatan lembaga pendidikan.

  1. Fungsi Perencanaan ( Planing)

Setiap program ataupun konsepsi memerlukan perencanaan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan administrasi. Tanpa perencanaan atau planing pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada permulaan dan selama kegiatan administrasi berlangsung.

  1. Fungsi pengorganisasian

Diartikan sebagai kegiatan membagi tugas-tugas pada orang yang terlibat dalam kerja sama pendidikan. Salah satu prinsip pengorganisasian adalah terbaginya semua tugas dalam unsure organisasi secara proporsinal, dengan kata lain pengorganisasian yang efektif adalah membagi habis tugas kedalam sub-sub organisasi.

  1. Fungsi penggerakan ( actuating )

Menurut Terry (1977) berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan antusias dan kemaun yang baik, kegiatan ini dilakukan oleh pemimpin.

  1. Fungsi pengkoordinasian

Yaitu mempersatukan rangkaian aktivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran dengan menghubungkan, menyatu padukan dan menyelaraskan orang-orang dan pekarjaannya sehingga semuanya berlangsung secara tertib kea rah tercapainya maksud yang telah ditetapkan.

  1. Fungsi pengarahan (directing)

Nawawi ( 1989:36) mengemukakan directing adalah memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui setiap personal, baik secara structural amupun fungsional, agar setiap kegiatannya tidak terlepas dari usaha mencapai tujuan.

  1. Fungsi pengawasan

Hadari nawawi (1989:43) menegaskan bahwa pegawasan dalam administrasi pendidikan berarti kegiatan mengukur tingkat efektivitas kerja personal dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan.

  1. Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan

Sagala (2005:19) menjelaskan cakupan administrasi pendidikan tidak hanya sekedar administrasi sekolah atau administrasi pembelajaran. Pandangan demikian adalah pandangan yang sempit. Administrasi pendidikan lebih luas dari itu, meskipun muara semua kebijakannya adalah sekolah atau satuan pendidikan pada semua jenjang dan jenis. Jadi administrasi pendidikan ada pada tataran pengambil kebijakan dan pada tataran satuan pendidikan.

Administrasi pendidikan pada tataran pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan anggaran pendidikan, standar kurikulum, standar ketenagaan, akreditasi sekolah, dan pelayanan kebutuhan sekolah sebagai pendidikan formal maupun pendidikan non formal yaitu pendidikan luar sekolah serta pendidikan kedinasan. Administrasi pendidikan pada satuan pendidikan berkaitan dengan penerapan teori-teori pendidikan dalam pelayanan belajar, teknik-teknik konseling belajar, manajemen sekolah, dan semua kegiatan yang mendukung dan memperlancar aktivitas-aktivitas satuan pendidikan untuk mencapai tujuan.

D. Bidang Garapan Jurusan Administrasi Pendidikan

Lulusan jurusan administrasi pendidikan dapat ditempatkan untuk bekerja pada bidang-bidang tertentu pada instansi/ lembaga pendidikan diantaranya sebagai :

  1. Tenaga perencana pendidikan

Tenaga perencana pendidikan terutama di dinas pendidikan, baik pusat atau daerah, yaitu pada bagian perencanaan, perguruan tinggi negeri atau swasta dan instansi/lemabaga lain yang bergerak dalam dunia pendidikan. Adapun deskripsi pekerjaan seorang tenaga perencana adalah menyusun program, mengelola, mengorganisasi kegiatan, melakukan evaluasi program, monitoring dan mengendalikan kegiatan pada instansi yang bersangkutan.

  1. Tenaga pengelola pendidikan

Lulusan jurusan administrasi pendidikan sebagi pengelola pendidikan dapat bekerja sebagai tenaga pengelola pada instansi/lembaga pemerintah baik lingkungan pendidikan seperti dalam jajaran departemen kementrian pendidikan nasional, bagian kepegawaian,perlengkapan, bagian tata usaha, bidang dokumentasi, dikmenjur, bagian keuangan kantor, kantor dinas pendidikan tingkat provinsi/ kabupaten/ kota bisa disemua bagia, lingkungan perguruan tinggi, pemerintah daerah, diklat-diklat, dan swasta.

Deskripsi pekerjaan bagian pengelola pendidikan meliputi, merencanakan dan menyusun program kerja, mengelola dan mengorganisir kegiatan-kegiatan, melaksanakan kegiatan sesuai dengan bidang tugas masing-masing, melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing sehingga menunjang pelaksanaan tugas lembaga secara efektif dan efisien.

  1. Tenaga pengawa pendidikan

Tenaga pengawas pendidikan dapat bekerja pada jajaran departemen kementerian pendidikan nasional seperti inspektorat, dinas pendidikan tingkat provinsi, dan dinas pendidikan tingkat kabupaten/kota/kecamatan dan jajaran departemen agama dan instansi lain baik negeri ataupun swasta.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Problematika Masa Depan Jurusan Administrasi Pendidikan

Setiap ada penerimaan CPNS baru di suatu lembaga atau instansi, yang pertama penulis cari adalah apakah ada lowongan untuk alumni atau tamatan jurusan Administrasi Pendidikan. Namun begitu selesai penulis membaca tidak satupun penulis menemukan formasi untuk mahasiswa yang berijasah administrasi pendidikan. Penulis benar-benar kecewa karena dari beberapa instansi yang membuka lowongan untuk CPNS tidak satupun yang menerima lulusan jurusan Administrasi Pendidikan.

Inilah inti dari permasalahan jurusan Administrasi Pendidikan saat ini, kita masih menunggu apa sebenarnya pekerjaan yang cocok untuk jurusan adaministrsi pendidikan, namun demikan dari berbagai informasi yang kami peroleh dari ketua jurusan, alumni dan mata kuliah yang dipelajari dapat ditarik kesimpulan bahwa lulusan jurusan administrasi pendidikan nantinya akan dipersiapkan untuk menjadi :

  1. Tenaga administrasi sekolah, staff TU
  2. Pegawai kantoran, dinas pendidikan, instansi negeri atau swasta
  3. Guru SMK Manajemen bisnis

10

Namun demikian sebenarnya jurusan administrasi pendidikan bisa bekerja dimana saja, ini dikarenakan karena ilmu yang dipelajari dalam jurusan ini adalah ilmu manajemen yang mana ilmu manajemen sangat dibutuhkan oleh semua lembaga baik negeri ataupun swasta.

Kami menyarankan pada saudara-saudara yang sudah patah semangat dengan jurusan ini, tetaplah tegar dan buktikan kalau jurusan kita adalah yang terbaik, satukan tekan dan rapatkan barisan kita pasti bisa. Ini adalah awal untuk kebangkitan kita bukan akhir. Akhir kata kami menghimbau saudara sekalian jadilah pencipta lapangan pekerjaan jangan menjadi pencari kerja. Tetapalah berkarya dan belajar karena seperti pribahasa mengatakan dimana ada kemauan disana pasti ada  jalan.

B. Secercah Harapan Bagi Lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan

Permasalahan diatas akan terjawab dengan adanya sebuah kebijakan yang dapat menjadikan jurusan administrasi pendidikan di kenal oleh masyarakat banyak dan memiliki prospek kerja yang jelas, dengan demikian akan mendapatkan respon positif dari mahasiswa administrasi pendidikan itu sendiri. Dibalik semua ini akan berpedoman kepada Permendiknas No. 24 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah.

Dengan keluarnya Permen tersebut, akan memberikan dampak positif kepada argument mahasiswa sebelumnya yang mengatakan ketidak jelasan dari jurusan administrasi pendidikan dan prospek kerjanya. Berdasarkan Permen tersebut arah jurusan administrasi pendidikan lebih tampak jelas. Bahwa sebagai tenaga administrasi sekolah benarlah orang-orang yang memiliki background dari administrasi pendidikan. Misalnya untuk menjadi seorang kepala administrasi SMA/SMK/MA/SMALB haruslah seseorang yang berpendidikan S1 program studi administrasi pendidikan, hal ini tercantum dalam lampiran Permen tersebut.

Disamping itu, untuk lebih dikenali jurusan administrasi pendidikan perlu diadakan sosialisasi kepada masyarakat tentang jurusan ini, dan kegiatan atau ikatan iluni administrasi pendidikan agar lebih ditingkatkan. Dengan demikian prospek kerja bagi jurusan administrasi pendidikan akan lebih tampak jelas. Tidak lupa pula diperlukan kesadaran dan optimisme dari setiap mahasiswa terhadap jurusan administrasi pendidikan. Janganlah memandang jurusan ini dengan sebelah mata, sesungguhnya jurusan administrasi pendidikan memiliki peranan penting dalam kemajuan pendidikan khususnya dalam bidang pengelolaan pendidikan.

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Jurusan administrasi pendidikan adalah suatu jurusan yang mempersiapkan lulusannya untuk memiliki Kompetensi sebagai berikut :

  1. Menguasai konsep dan teori tentang manajemen pendidikan yang meliputi fungsi dan bidang garapan serta mampu menerapkannya dalam praktek manajemen pendidikan
  2. Menguasai konsep dan teori pendidikan dan pengajaran serta mampu melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran
  3. Menguasai konsep dan teori karya ilmiah dan mampu menghasilkan karya ilmiah di bidang manajemen pendidikan
  4. Mampu memahami dan hidup bermasyarakat
  5. Mampu berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma agama yang dianutnya,
  6. Mampu menggunakan teknologi dalam praktek manajemen pendidikan
  7. Mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan dalam bidang manajemen pendidikan
  8. Memiliki wawasan kewirausahaan dan
  9. Mampu mengolah dan menganalisis data.

 

  1. B. Saran-saran

Menyikapi akan keraguan mahasiswa akan jurusan ini, perlu penulis tegaskan bahwa tidak ada satupun jurusan yang bisa menjamin seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Artinya sebagus apapun jurusan, tidak akan menentukan, diera globalisasi ini yang sangat dituntut dari seorang lulusan akademisi adalah kompetensi yang dia miliki bukan dia lulusan apa. Jadi penulis menyarankan dan menghimbau kepada seluruh mahasiswa jurusan administrsi pendidikan untuk tidak ragu dan malu dengan jurusan ini tetaplah belajar dengan giat dan tingkatkan kompetensi dalam diri kita sehingga dengan demikian setelah kita lulus kita bisa membawa ijazah yang kita miliki kelembaga yang kita inginkan.

Selanjutnya kepada pihak yang memiliki power dengan jurusan administrasi pendidikan, penulis berharap untuk lebih gencar dalam hal sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat, berupa seminar nasional, bakti sosial mahasiswa dan lain sebagainya, penulis berharap dengan adanya kegiatan tersebut akan membuka mata pemerintah dan masyarakat terhadap jurusan administrasi pendidikan.

 

 

 

 

ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME


ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME

 

Filsafat itu adalah hasil pemikiran ahli-ahli filsafat atau filosof-filosof sepanjang zaman diseluruh dunia. Filsafat telah banyak mempengaruhi perkembangan keseluruhan budaya umat manusia dan juga mempengaruhi system politik, sosial, idiologi dan juga mempengaruhi sistim ilmu pengetahuan itu sendiri yang tersimpan dalam filsafat ilmu pengetahuan tertentu. Brameid membagi aliran filsafat itu kedalam empat bagian :

  1. Esensialisme
  2. Progressivisme
  3. Perennialisme
  4. Reconnstructionisme aliran progressivisme

Aliran progresivisme berkembang pada abad ke-20 diterima di Amerika serikat. Progresivisme artinya adalah aliran-aliran filsafat yang mempertimbangkan tentang maslah-masalah pembaharuan dalam dunia pendidikan yang tujuannya adalah untuk perkembangan yang lebih maju dan bersifat lebih ilmiah sehingga terjadi perubahan baru yang secara nyata bukan hanya sekedar realita tetrapi benar-benar Nampak fungsi dan kegunaannya.

A. Pandangan Ontology Progresivisme

Ontology progresivisme mengandung pengertian dan kualitas evolusionistis yang kuat, Pengalaman diartikan sebagai ciri dinamika hidup, dan hidup adalah perjuangan tindakan dan perbuatan.  Sifat-sifat pengalaman :

  1. Pengalaman itu dinamis adalah dalam kehidupan terjadi perubahan yang terjadi terus menerus,
  2. Pengalaman itu temporal adalah terjadi perubahan dan perbedaan pengalaman dari waktu kewaktu,
  3. Pengalaman itu spatial adalah terjadi disuatu tempat dalam lingkungan manusia,
  4. Pengalaman itu pluralistis yaitu pengalaman itu terjadi seluas adanya interaksi sedalam individu terlibat.

B. Pandangan epistimologi progresivisme

Ada tiga hal yang dibicarakan dalam Epistimologi Filsafat yaitu : objek filsafat (yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan ) filsafat

  1. Objek Filsafat

Tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Susunan hasil pemikiran disebut Sistematika Filsafat atau Struktur Filsafat yang terdiri atas ontologi, epistimologi, dan aksiologi.  Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti (dipikirkan). Jika memikirkan pendidikan, jadilah filsafat pendidikan, dan seterusnya. Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain sebab filsafat meneliti objek yang Ada dan mungkin ada.

  1. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Berfilsafat ialah berfirkir, dan berfikir itu menggunakan akal. Dari sini timbul  masalah apa itu   “ akal “ .  Akal ini diperdebatkan oleh ahli akal (Locke,Voltaire, Will Durant,David Hume,dan sebagainya dan orang –orang yang secara intesif mengunakan akalnya.Untuk itu mereka menerima bahwa “bahwa akal itu ada”, dan ia bekerja berdasarkan suatu cara yang tidak begitu kita kenal. Aturan kerjanyadisebut “ logika “. Sejauh akal itu bekerja menurut aturan logika, agaknya kita dapat menerima kebenarannya. Kerja akal yaitu berfikir mendalam, menghasilkan filsafat.

  1. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan filsafat merupakan  pengetahuan yang logis. Ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis benar, bila tidak logis, salah. Ukuran logis tidaknya terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori). Argumen  menjadi kesatuan dengan konklusi, dan konklusi ini disebut teori filsafat. Bobot teori filsa fat terletak pada kekuatan argumen, maka diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen. Kebenaran konklusi ditentukan 100% oleh argumen.

C. Pandangan exiologi progresivisme

Approach empiris adalah masalah dan pengalaman yang real dalam kehidupan manusia, approach artristik adalah suatu nilai yang memperkaya eksperimen manusia. Nilai atristik member isi dan kedalaman bagi pengalaman seseorang, yang termasuk nilai artristik adalah nilai estetika ilmu pengetahuan dan seni.

Azas belajar  menurut progresivisme adalah :

1.  Anak dan lingkungan, anak adalah organism yang mempunyai suatu proses pengalaman, sebab ia merupakan bahagian dan lingkungan yang selalu mengalami proses perubahan dan perkembangan.

FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN


FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN

Filsafat adalah berfikir secara murni untuk mencari makna yang sedalam-dalamnya, berfikir untuk mencari kebenaran, mewujudkan berfikir murni berupa ilmu atau, pengertian lain filsafat adalah :

  1. Filsafat sebagai aktifitas murni  ( efektif thingking) usaha untuk mengerti segala sesuatu secara mendalam, tingkat berfikir manusia tertinggi untuk memahami alam semesta,
  2. Filsafat sebagai produk  kegiatan berfikir murni, berupa wujud ilmu, hasil pemikiran dan penyelidikan filsafat. Filsafat ini juga berarti suatu bentuk ajaran tentang segala sesuatu sebagai suatu ideologi/ sebagai aktifitas rasio dan wujud

 

TUJUAN PENDIDIKAN

Menurut UU No 20 tahun 2003, tujuan pendidikan Indonesia adalah : Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia,sehat , berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab kepada bangsa dan negara.

  1. Ontology filsafat pendidikan

Ontology merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit, tokoh yunani yang memiliki pandangan bersifat ontologis adalah Thales, Plato dan Aristoteles. Ontologi adalah disiplin ilmu, ontology filsafat pendidikan suatu kenyataan  dimana kehidupan manusia itu bersifat dinamis, temporal, spiritual serta pluralistic. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu.

  1. Epistimologi filsafat pendidikan (tekhnik pendidikan)

Epistemology berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata/pembicaraan/ilmu. Merupakan cabang filsafat pendidikan yang berkaitan dengan asal, sifat dan jenis pengetahuan. Epistemology filsafat adalah pengetahuan dan kebenaran yang bersifat aktif, intelegensi dan operasionalisme intermediate dan mediate experiment yang merupakan ciri-ciri utama suatu pendidikan nasional.

  1. Axiologi filsafat pendidikan

Axiology berasal dari kata axios yang artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal/ teori. Axiologi artinya teori nilai, penyelidikan tentang kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai. Axiologi menurut  Rames bahwa bidang ini menyelidiki pengertian, jenis, tingkat, sumber dan hakekat pendidikan secara kesemestaan. Dasar axiology filsafat pendidikan adalah :

  1. Filsafat pendidikan mempunyai landasan pancasila dan UUD `45
  2. Filsafat pendidikan dapat membedakan secara hakiki sumber-sumber nilai kebenaran dalam suatu perwujudan,
  3. Filsafat pendidikan merupakan sosial budaya dan kebudayaan umat manusia secara keseluruhan diperadaban manusia menurut tempat dan zamannya.

KEPEMIMPINAN DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN



1. Lima teori motivasi yang berkaitan dengan kepemimpinan adalah :

A.       Teori kepuasan (Content Theory) Teori kepuasan yang mendasarkan pendekatannya atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak serta berprilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, dan menghentikan prilakunya, teori ini menjawab pertanyaan kebutuhan apa yang memuaskan seseorang dan apa yang mendorong semangat bekerja seseorang. Teori ini bertujuan untuk mencari a) kebutuhan apa yang diperlukan oleh bawahan untuk mencapai kepuasan b) dorongan apa saja yang menyebabkan bawahan itu berprilaku. Teori ini sangat cocok diterapakan pada lembaga pendidikan atau sekolah, sebab seorang guru / siswa akan semangat dalam aktivitas mereka jika dalam aktivitas mereka semuanya dilengkapi,baik itu dari segi sarana pendidikan, ataupun gaji yang layak bagi para guru. Jika semua keinginan dari guru dan siswa tadi di lengkapi maka akan timbul dari dalam dirinya suatu motivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih.

B.       Teori Hierarki Kebutuhan, ( Abraham Maslow ) yang mengemukakan teori hierarki kebutuhan, teori ini berpendapat bahwa seseorang mau bekerja karena adanya dorongan untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan dan kebutuhan yang diinginkan seseorang itu berjenjang yaitu :

1.                        Physiological needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum perumahan, dan kesejahteraan individu, karena kebutuhan ini sudah terasa sejak manusia dilahirkan ke bumi ini.

2.                        Safety needs yaitu kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman dari kecelakaan dan keselamatan dari pekerjaan, perasaan aman juga menyangkut pegawai.

3.                        Social needs, Manusia pada hakekatnya adalah mahluk sosial, sehingga mereka mempunyai kebutuhan sosial sebagai berikut

a)      Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain

b)      Kebutuhan akan perasaan dihormati

c)      Kebutuhan untuk berprestasi

d)     Kebutuhan untuk ikut serta

4.                       Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan

5.                       Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Tujuan dari teori maslow ini adalah untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, baik itu kebutuha primer ataupun kebutuhan sekunder, teori ini sangat tepat sekali diterapkan disekolah karena dengan memenuhi semua kebutuhan yang disebutkan diatas semua warga sekolah, guru,kepala, siswa akan memiliki suatu motivasi yang sangat luar biasa.

C.       Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi) Dari Mc Clelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan : Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit.Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku.Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil. Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. Teori ini bisa digunakan di sekolah,setiap siswa ataupun guru menginginkan untuk memiliki suatu prestasi maka dengan menerapkan cara motivasi ini maka guru ataupun siswa akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik

D.       Teori Herzberg (Teori Dua Faktor) Teori yang dikembangkannya dikenal dengan Model Dua Faktor dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

E.        Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ) Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu,dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya,yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Dalam lembaga pendidikan guru ataupun siswa akan melakukan apa saja jika mereka melihat suatu peluang apalagi peluang itu terbuka dengan lebar. Apalagi di lembaga pendidikan orang-orang ataupun masyarakat banyak menggantugkan harapannya untuk mencapai cita-cita merekam, dengan melaksanakan teori  ini maka warga sekolah akan sangat termotivasi sekali untuk dapat mewujudakan harapan-harapan mereka tersebut.

2. Model dinamika kelompok

Pengertian dinamika kelompok secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu dinamika kelompok sebagai cabang suatu ilmu dan dinamika kelompok dalam pengertian umum. Kurt Lewin sebagai perintis Ilmu Dinamika Kelompok menyatakan bahwa Ilmu Dinamika Kelompok mempelajari: (1) tenaga yang bekerja dalam kelompok, (2) penyebab adanya tenaga tersebut, (3) kondisi bagaimana yang dapat mengubah tenaga-tenaga tersebut, (4) apa akibatnya terhadap individu maupun kelompok.

Dalam kaitannya dengan dinamika kelompok terdapat 4 (empat) tahapan pertumbuhan kelompok, yaitu: (1) tahap pembentukan rasa kekompakan; (2) tahap pancaroba; (3) tahap pembentukan norma, dan; (4) tahap berprestasi. Tahap pembentukan rasa kekompakan akan menghasilkan dua kondisi psikologis, yaitu saling mengenal secara pribadi di antara anggota kelompok dan menghilangkan kebekuan/kekakuan dalam interaksi antarindividu.Situasi tersebut akan menghasilkan kelompok yang kompak. Sedang tahap pancaroba setiap anggota diharapkan dapat menyatakan perasaannya dengan demikian semua anggota kelompok merasa menjadi satu kesatuan yang utuh. Pada tahap pembentukan norma, diharapkan terbentuk norma kelompok yang disepakati bersama untuk dijadikan pedoman berperilaku kelompok sehingga terbentuk kelompok yang sinergis. Pada tahap berprestasi merupakan situasi yang kelompoknya dapat mencapai tingkat produktivitas yang tinggi.

Pemimpin Kelompok

Pemimpin adalah orang yang memiliki kemauan, kecakapan dan kelebihan, sehingga ia mampu mempengaruhi orang lain/anggota kelompok untuk bekerja sama melakukan aktivitas tertentu demi pencapaian tujuan kelompok.Sedang kepemimpinan adalah usaha untuk mempengaruhi orang lain/anggota kelompok, lewat proses komunikasi, untuk mencapai tujuan kelompok. Ada 5 sikap mental yang harus dipenuhi/dimiliki oleh seseorang untuk menjadi pengikut/anggota kelompok yang efektif, yaitu (1) pandai menggunakan waktu, (2) memperhatikan hasil yang akan dicapai organisasi, (3) membangun kerja sama, (4) memperhatikan prioritas organisasi, dan (5) berorientasi pada sistem.

Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok adalah komunikasi antara seseorang dengan sekelompok orang dalam situasi tatap muka. Goldberg dan Larson menyatakan bahwa komunikasi kelompok adalah suatu bidang studi, penelitian, dan terapan, yang tidak menitikberatkan perhatiannya pada proses kelompok secara umum, tetapi pada tingkah laku individu dalam diskusi kelompok tatap muka yang kecil. Komunikasi kelompok mulai sering muncul dengan istilah alternatif dari “diskusi”. Komunikasi kelompok hanya memusatkan perhatiannya pada proses komunikasi pada kelompok kecil, sedang dinamika kelompok memusatkan perhatiannya pada tingkah laku kelompok. Komunikasi kelompok maupun diskusi kelompok sama-sama memusatkan perhatiannya pada tingkah laku para anggota kelompok dalam berdiskusi. Akan tetapi komunikasi kelompok memandang proses diskusi kelompok kecil dari sudut pandang yang lebih “ilmiah”, artinya lebih sebagai bidang ilmu penyelidikan dan agak kurang sebagai bidang pengembangan keterampilan dan penyempurnaan kelompok. Komunikasi kelompok lebih tertarik pada deskripsi dan analisis proses diskusi daripada merumuskan bermacam-macam persyaratan untuk meningkatkan efektivitas suatu diskusi kelompok.

Dalam suatu lembaga pendidikan akan banyak ditemui kelompok-kelompok, baik itu kelompok formal ataupun kelompok non formal. Keberadaan kelompok ini sangat mempengaruhi ketercapaian tujuan dari organisasi pendidikan. Oleh karena itu dalam tahapan dinamika kelompok dalam lemabaga pendidikan akan diawali dengan

1.      Pembentukan rasa kekompakan, anggota-anggota yang ada didalam suatu kelompok tidak berasal dari satu bagian saja,tapi berasal dari berbagai bagian dari organisasi tersebut, karena itu ditahap awal langkah yang harus dilakukan adalah untuk membentuk kekompakan pada tim atau kelompok tersebut.

2.      Tahap kedua adalah tahap pancaroba, dimana semua anggota kelompok menyatakan semua perasaannya, apa yang dia rasakan dan dia ketahui diceritakan ini dengan harapan supaya anggota kelompok menjadi satu kesatuan yang utuh.

3.      Tahap ketiga adalah pembentukan norma pada anggota kelompok, ini mereka tetapkan secara bersama dan harus ditaati. Ini bertujuan untuk mengatur bagaimana mereka berprilaku dalam suatu kelompok.

4.      Tahap terakhir adalah dimana pada saat itu kelompok atau tim sudah menunjukkan prestasinya,mereka bekerja sebagai satu tim bukan secara pribadi.

 

 

 

3. Program pelatihan peningkatan kepemimpinan kepala sekolah

 

Diklat Kepemimpinan Kepala Sekolah

A. Latar Belakang

Kepala sekolah memainkan peran sangat penting suatu lembaga formal yang mengelola proses pembelajaran. Kepala sekolah harus mampu membangun iklim sekolah yang kondusif yang memungkinkan anggota sekolah mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Upaya membangun iklim sekolah yang kondusif ini akan sangat terkendala dan bahkan mungkin kontraproduktif jika kepala sekolah tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang produktif, yaitu kepala sekolah yang perilakunya dapat menjadi teladan, memotivasi, dan memberdayakan. Kepala sekolah seperti ini keberadaannya memberi nilai tambah bagi kemaslahatan bagi lembaga dan anggotanya.

Kepala sekolah yang ada sekarang kebanyakan dari mereka tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan kewibawaan dimata para guru, hal ini terjadi karena mereka memangku jabatan karena ditunjuk atau tuntutan tugas yang diberatkan pada mereka. Akhirnya dilapangan mereka mengalami kewalahan dalam memimpin suatu sekolah, mereka tidak dihargai oleh guru ataupun siswa.

Unutk menghindari agar hal ini tidak terjadi kembali maka diadakanlah pelatihan kepemimpinan, ini demi menciptakan seorang kepala sekolah yang berjiwa pemimpin dan menjadi pemimpin yang dicintai oleh bawahannya / guru-guru.

 

 

B. Tujuan

Diklat ini bertujuan membekali kepala sekolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkannya meningkatkan kualitas kepemimpinannya.

Selain itu juga untuk meningkatkan kualitas kepribadian kepala sekolah dalam memimpin suatu lembaga pendidikan.

 

 

 

C. Materi Diklat

 

1.                            Dinamika kelompok

2.                            Kepemimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah yang kondusif

3.                            Konsep dan praktik keteladanan pemimpin

4.                            Konsep dan praktik pemotivasian yang efektif

5.                            Konsep dan praktik komunikasi yang efektif

6.                            Konsep dan praktik pemecahan masalah dan pengambilan keputusan

7.                            Konsep dan praktik pemberdayaan SDM sekolah

 

D. Metode

Ceramah, diskusi, dan praktik

 

E. Peserta

1.                            Peserta pelatihan terutama adalah para kepala sekolah.

2.                            Jumlah peserta maksimal 35 0rang/kelas

 

F. Fasilitator

 

Kegiatan pembelajaran ini difasilitasi oleh widyaiswara dan tenaga ahli yang relevan.

G. Tempat dan Lama Diklat

Kegiatan ini dilaksanakan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Sumatera Barat, kegiatan ini berlangsung selama enam  hari , yaitu dari hari senin sampai hari sabtu.

H. Perkiraan Biaya

1.      Kokarde peserta 1@ Rp 2.000,- X 35                       Rp. 70.000

2.      Materi diklat 1@Rp 10.000,- X 35 X 6         Rp. 2.100.000

3.      Makan peserta 1@Rp 10.000 X 3 X 35 X 6 Rp. 6.300.000

4.      Penginapan 1@Rp 30.000 X 35 X 6             Rp. 6.300.000

Total biaya                                                                          Rp.14.770.000

FUNGSI-FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN


FUNGSI-FUNGSI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

a. Perencanaan ( Planing)
Setiap program ataupun konsepsi memerlukan perencanaan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan administrasi. Tanpa perencanaan atau planing pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada permulaan dan selama kegiatan administrasi berlangsung. Didalam setiap perencanaan ada dua faktor yang harus diperhatikan yaitu faktor Tujuan dan faktor sarana baik saran personal (SDM) maupun material. Adapun langkah –langkah dalam perencanaan meliputi hal –hal sebagai berikut :

  1. Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
  2. Meneliti masalah –masalah atau pekerjaan –pekerjaan yang akan dilakukan.
  3. Mengumpulkan dara dan informasi yang diperlukan.
  4. Menentukan tahapan –tahapan atau rangkaian tindakan.
  5. Merumuskan bagaiamana masalah –masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan –pekerjaan itu akan dilaksanakan.

b. Pengorganisasian
Pengorganisasian merupakan aktivitas menyusun dan membentuk hubungan –hubungan kerja antara orang –orang,sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan –tujuan yang telah diterapkan. Di dalam pengorganisasian terdapat adanya pembagian tugas –tugas, wewenang dan tanggung jawab secara terperici menurut bidang –bidang dan bagian –bagian,sehingga terciptalah adanya hubungan –hubungan kerjasama yang harmonis dan lacar menuju pencapaian tujuan yang telah diterapkan.

c. Pengkoordinasian.
Adanya bermacam –macam tugas atau pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang, memerlukan adanya koordinasi dari seorang pimpinan. Adanya koodinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan atau kesimpang siuran dalam tindakan. Dengan adanya koordinasi yang baik, semua bagian dan personal dapat bekerjasama menuju ke satu arah tujuan yang telah ditetapkan.

Kita mengetahui bahwa rencana atau program –program pendidikan yang harus dilaksanakan di sekolah –sekolah sifatnya sangat komplek dan mengandung banyak segi yang saling bersangkut paut satu sama lain. Sifatnya kompleks yang dimiliki oleh program pendidikan di sekolah menunjukan sangat perlunya tindakan –tindakan yang yang dikoordinasikan. Koordiansi ini perlu untuk mengatasi batas –batas perencanaan maupun batas –batas personil seperti untuk mengatasi kemungkinan adanya duplikasi dalam tugas, perebetuan hak dan tanggung jawab, ketidak seimbangan dalam berat ringannya pekerjaan,kesimpang siuran dalam menjalankan tugas dan kewajiban.

d. Komunikasi
Dalam pelaksanaan suatu program pendidikan, aktivitas menyebarkan dan menyampaikan gagasan –gagasan dan maksud keseluruh struktur organisasi sangat penting. Proses menyampaikan atau komunikasi ini meliputi lebih dari sekedar menyalurkan pikiran –pikiran atau gagasan dan maksud secara lisan atau tertulis.
Menurut sifatnya komunikasi ada dua macam yaitu komunikasi bebas dan terbatas. Dalam komunikasi bebas, setiap individu atau anggota dapat berkomunikasi dengan setiap anggota yang lain. Sedangkan dalam komunikasi terbatas, setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan beberapa anggota saja. Untuk melaksanakan suatu program atau rencanam dalam batas –batas tertentu komunikasi bebas lebih baik dari komunikasi terbatas.Kesimpulannya komunikasi dalam setiap bentuknya adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang –orang dalam struktur organisasi.

e. Suvervisi atau pengawasan
Setiap pelakasanaan dari program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. Pengawasan bertanggung jawab tentang aktivitas dari program itu. Oleh karen itu maka suvervisi haruslah teliti ada atau tidaknya kondisi –kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan –tujuan pendidikan.

Fungsi suvervisi antara lain :

  1. Menentukan kondisi –kondisi atau syarat –syarat apakah yang diperlukan dan
  2. Memenuhi atau mengusahakan syarat –syarat yang diperlukan itu.

Dengan demikian disimpulkan bahwa supervis adalah fungsi administrasi pendidikan berarti aktivitas –aktivitas untuk menentukan kondisi –kondisi atau syarat –syarat yang esensil yang akan menjamin tercapainya tujuan –tujuan pendidikan.

f. Evaluasi.
Evaluasi mengetahui berhasil atau tidaknya suatu program, diperlukan adanya penilaian atau evaluasi. Tiap penilaian berpegang pada rencana tujuan yang hendak dicapainya, atau dengan kata lain setiap tujuan merupakan kriteria penilaian.
Oleh karen itu penilaian terhadap pekerjaan seorang guru dalam usaha mendidik dan mengajar murid –muridnya, tidak dapat disamakan dengan penilaian terhadap pekerjaan tukang menjahit dalam membuat pakaian langganannya, atau pekerjaan arsitek dalam membangun sebuah gedung.
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan, tidak didirikan orang untuk memperoleh penghasilan,melainkan untuk memelihara dan memajukan kebudayaan. Dengan demikian penilaiaan tentang efisiensi pendidikan bukanlah untuk menentukan untung rugi secara finansial. Berhasil atau tidak berhasil pendidikan harus dinilai dari sudut keuntungan –keuntungan atau kerugian masyarakat. Demikian pula penilaian terhadap hasil pendidikan pada seorang anak, bukan hanya dilihat dari salah satu segi saja, umpanya dari intelegensi atau kecerdasan saja, melainkan dari keseluruhan anak itu sebagai pribadi yang utuh.

PENULISAN DAFTAR PUSTAKA YANG BENAR


PENULISAN DAFTAR PUSTAKA YANG BENAR

Sering kali kita mengalami kesulitan dalam menulis karya ilmiah yang berasal dari ketidak pahaman kita tentang penulisan  daftar pustaka yang benar, yang termasuk karya ilmiah adalah makalah-makalah, skripsi bagi mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan S1 , thesis untuk mahasiswa yang yang akan menyelesaikan pendidikan S2 dan disertasi bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan S3 dan masih banyak yang lain. Semua bentuk tulisan yang saya sebutkan diatas semuanya harus memiliki daftar pustaka yang bisa dipercaya.

Untuk membantu anda semua mengatasi kesulitan ini, saya akan coba sharing bagaimana menulis daftar pustaka yang baik dan benar dari berbagai sumber, buku, makalah, Koran ataupun media online/ internet.

Sebelum kita mulai, kita harus paham dulu apa itu daftar pustaka, Pengertian daftar pustaka adalah  sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan (contohnya: thesis). Melalui daftar pustaka yang disertakan pada akhir tulisan, para pembaca dapat melihat kembali pada sumber aslinya.

Pendapat lain Daftar Pustaka adalah daftar bacaan yang disarankan untuk dibaca dan tidak diacu dalam tulisan, baik dalam tesis/disertasi/laporan, tetapi sekedar untuk memperluas wawasan bagi mereka yang ingin mengetahuinya lebih lanjut. Daftar Pustaka tidak disarankan dalam penulisan laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi. Maksudnya tentu agar penelitian, skripsi, tesis dan disertasi memanfaatkan sumber informasi yang telah ada atau penelitian yang telah dilakukan orang lain untuk dikembangkan sebagai inspirasi penelitian baru atau membangun suatu informasi baru. ( 2010 : http://mit.biotrop.org )

Dalam menulis daftar pustaka terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu: Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: