MANAJEMEN PENGAWASAN SEKOLAH


MANAJEMEN PENGAWASAN SEKOLAH

OLEH : MUKHLIS

A. Hakekat Pengawasan

Ketika perencanaan pendidikan dikerjakan dan struktur organisasi persekolahannyapun disusun guna memfasilitasi perwujudan tujuan pendidikan, serta para anggota organisasi, pegawai atau karyawan dipimpin dan dimotivasi untuk mensukseskan pencapaian tujuan, tidak dijamin selamanya bahwa semua kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang direncanakan. Pengawasan sekolah itu penting karena merupakan mata rantai terakhir dan kunci dari proses manajemen. Kunci penting dari proses manajemen sekolah yaitu nilai fungsi pengawasan sekolah terletak terutama pada hubungannya terhadap perencanaan dan kegiatan-kegiatan yang didelegasikan (Robbins 1997). Holmes (t. th.) menyatakan bahwa ‘School Inspection is an extremely useful guide for all teachers facing an Ofsted inspection. It answers many important questions about preparation for inspection, the logistics of inspection itself and what is expected of schools and teachers after the event’.

Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997). Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja 2001).

Oleh karena itu mudah dipahami bahwa pengawasan pendidikan adalah fungsi manajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan, seperti halnya fungsi manajemen lainnya (Mantja 2001). Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian, wadah, struktur, fungsi dan mekanisme, sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standard dan tujuan yang jelas.

Dalam proses pendidikan, pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Sahertian (2000:19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. Burhanuddin (1990:284) memperjelas hakikat pengawasan pendidikan pada hakikat substansinya. Substansi hakikat pengawasan yang dimaksud menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanan program pembelajaran yang telah dibuat. Proses bantuan yang diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar itu penting, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Jadi bantuan yang diberikan itu harus mampu memperbaiki dan mengembangkan situasi belajar mengajar. Baca lebih lanjut

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN


MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
A. Pendahuluan
Memasuki  abad  ke  21  ini  Indonesia  dihadapkan  pada  masalah  yang  rumit  seperti  masalah
reformasi  dalam  kehidupan  bernegara  dan  berbangsa,  masalah   krisis  yang  berkepanjangan
dan  hingga  saat  ini  belum  tuntas,  masalah  kebijakan  makro   pemerintah  tentang  sistem
pemerintahan  otonomi  daerah   yang  memberdayakan  masyarakat.  Kita  juga   menghadapi
perubahan-perubahan besar dan amat fundamental dilingkungan global. Perubahan lingkungan
strategis pada tataran global tersebut tercermin pada pembentukan forum-forum seperti GATT,
WTO,  dan  APEC,  NAFTA  dan  AFTA,  IMG-GT,  IMS-GT,  BIMP-EAGA,  dan  SOSEKMALINDO
yang  merupakan  usaha  untuk  menyongsong  perdagangan  bebas  dimana  pasti  akan
berlangsung  tingkat  persaingan  yang  amat  ketat.   Suatu  perubahan  regulasi  yang  semula
monopoli (monopoly) menjadi persaingan bebas (free competition). Demikian pula, terjadi pada
pasar  yang  pada  awalnya  berorientasi  pada  produk  (product  oriented)  beralih  pada  orientasi
pasar  (market  driven),  serta  dari  proteksi  (protection)  berpindah  menjadi  pasar  bebas  (free
market ).
Untuk itu perlu mengantisipasi keadaan ini dengan memperkuat kemampuan bersaing
diberbagai bidang dengan pengembangan Sumber Daya Manusia. Sayangnya SDM kita saat
ini memprihatinkan, menurut UNDP. Indonesia menempati peringkat 109 dari 174, peringkat
daya saing ke 46 yang paling bawah di kawasan Asia Tenggara, Singapura ke-2, Malaysia ke-
27. Phillipina ke 32, dan Tailand ke 34, dan termasuk negara yang paling korup didunia.(Indra
Jati Sidi, 2000). Menurut Survei Human Development Index  sebagaimana diungkapkan oleh
Yutata Hadi  Andoyo Direktur Direktorat Peguruan Tinggi Swasta Ditjen Pendidikan Tinggi
Depdiknas, kualitas SDM Indonesia saat ini menduduki peringkat ke 105. Untuk ilustrasi ,
perangkat SDM di kawasan Asia Tenggara yaitu Singapura menduduki peringkat 25, Brunei 26,
Malaysia 56, Thailand 57 dan Pilipina 77. (Jawa Post, 11 Juli 2000).
Dalam upaya peningkatan SDM, peranan pendidikan cukup menonjol. Oleh karena itu sangat
penting bagi pembangunan nasional untuk memfokuskan peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan yang bermutu akan diperoleh pada  sekolah yang bermutu, dan sekolah yang
bermutu akan menghasilkan SDM yang bermutu pula.
Sementara itu rendahnya mutu SDM signifikan dengan rendahnya mutu pendidikan tinggi,
sebagaimana data yang dipaparkan oleh Dr Ibrahim Musa MA, Dosen FKIP Universitas
Terbuka sesuai survey Asia Week, mengungkap rendahnya peringkat universitas terbaik di
tanah air diantara universitas-universitas terbaik di Asia Pasifik. Dari 77 universitas yang
disurvey, empat universitas terbaik dalam standar Indonesia menempati urutan bawah, UI
peringkat ke-61, UGM ke-68, Undip ke-73, dan Unair ke-75 (Republika, 22/4/02).
Berkaitan dengan mutu, Joseph. M. Juran yang pikiran-pikirannya begitu terkenal dan
berpengaruh di Jepang sehingga pada tahun 1981 dia dianugerahi Order of the Sacred
Treasure oleh Kaisar Jepang, mengemukakan bahwa 85% dari masalah-masalah mutu terletak
pada manajemen (pengelolaan), oleh sebab itu sejak dini manajemen haruslah dilaksanakan
seefektif  dan seefisien mungkin.  (M. Jusuf Hanafiah dkk, 1994:101). Salah satu bentuk
manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan bisa diadaptasi dalam dunia
pendidikan adalah TQM (total quality management) pada sistem pendidikan yang sering
disebut sebagai: Total Quality Management in Education (TQME).
B. Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Pada Industri Modern
Manajemen  sekolah  seyogyanya  memahami  pula  perkembangan  manajemen  sistem  industri
modern, sehingga mampu mendesain, menerapkan, mengendalikan, dan meningkatkan kinerja
sistem  pendidikan   yang  memenuhi  kebutuhan  manajemen  sistem  industri  modern.  Hal  ini
dimaksudkan  agar  setiap  lulusan  dari  sekolah  mampu  dan  cepat  beradaptasi  dengan
kebutuhan  sistem  industri  modern.  Dengan  demikian  sebelum  membahas  tentang  sistem
pendidikan di sekolah, perlu diketahui tentang konsep dasar sistem industri modern yang akan
dipergunakan  sebagai  landasan  utama  untuk  membahas  penerapan  TQME  pada  sistem
pendidikan modern di Indonesia. Baca lebih lanjut

PENYUSUNAN RPP YANG BAIK DAN BENAR


PANDUAN PENYUSUNAN RPP

PENGANTAR

Pendidikan adalah proses yang bersifat terencana dan sistematik, karena itu perencanaannya disusun secara lengkap, dengan pengertian dapat dipahami dan dilakukan oleh orang lain dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Sebagai illustrasi dapat kita gunakan profesi seorang Insinyur bangunan. Rancang bangun yang disusunnya dapat dilaksanakan dengan baik oleh beberapa orang tukang bangunan dibantu dengan beberapa orang buruh bangunan. Mengapa? karena rancang bangun yang disusun Insinyur tersebut cukup lengkap dan operasional, sehingga seorang tukang yang tidak memiliki pendidikan teknik bangunan sekalipun dapat memahami dan melaksanakannya.

Pertanyaannya: apakah rencana pembelajaran yang telah disusun oleh guru selama ini sudah lengkap dan operasional? Kenyataannya, pada pengamatan terhadap dokumen RPP pada portofolio sertifikasi guru, umumnya hanya berisi langkah-langkah yang cenderung tidak operasional dan langkah tersebut cenderung bersifat kegiatan rutin. Belum tampak adanya spesifikasi langkah-langkah pembelajaran sesuai karakter mata pelajaran dan perkembangan peserta didik.

Seharusnya RPP tersebut disusun selengkap mungkin dan sistematis sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru lain. Terutama ketika guru yang bersangkutan tidak hadir, guru lain dari mata pelajaran serumpun dapat menggantikan langsung, tanpa harus merasa kebingungan ketika hendak melaksanakannya.

Pada hakekatnya penyusunan RPP bertujuan merancang pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tidak ada alur pikir (algoritma) yang spesifik untuk menyusun suatu RPP, karena rancangan tersebut seharusnya kaya akan inovasi sesuai dengan spesifikasi materi ajar dan lingkungan belajar siswa (sumber daya alam dan budaya lokal, kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi). Pengalaman dari penilaian portofolio sertifikasi guru ditemukan, bahwa pada umumnya RPP guru cenderung bersifat rutinitas dan kering akan inovasi. Mengapa? diduga dalam melakukan penyusunan RPP guru tidak melakukan penghayatan terhadap jiwa profesi pendidik. Keadaan ini dapat dipahami karena, guru terbiasa menerima borang-borang dalam bentuk format yang mengekang guru untuk berinovasi dan penyiapan RPP cenderung bersifat formalitas. Bukan menjadi komponen utama untuk sebagai acuan kegiatan pembelajaran. Sehingga ketika otonomi pendidikan dilayangkan tak seorang gurupun bisa mempercayainya. Buktinya perilaku menyusun RPP dan perilaku mengajar guru tidak berubah jauh.

 

Acuan alur pikir yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah:

  1. Kompetensi apa yang akan dicapai.
  2. Indikator-indikator yang dapat menunjukkan hasil belajar dalam bentuk perilaku yang menggambarkan pencapaian kompetensi dasar.
  3. Tujuan pembelajaran yang merupakan bentuk perilaku terukur dari setiap indikator.
  4. Materi dan uraian materi yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa agar ianya dapat mencapai tujuan pem­belajaran.
  5. Metode-metode yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  6. Langkah-langkah penerapan metode-metode yang dipilih dalam satu kemasan pengalaman belajar.
  7. Sumber dan media belajar yang terkait dengan aktivitas pengalaman belajar siswa.
  8. Penilaian yang sesuai untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.

 

Secara umum, ciri-ciri Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (RPP) yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Memuat aktivitas proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan oleh guru yang akan menjadi pengalaman belajar bagi siswa.
  2. Langkah-langkah pembelajaran disusun secara sistematis agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
  3. Langkah-langkah pembelajaran disusun serinci mungkin, sehingga apabila RPP digunakan oleh guru lain (misalnya, ketiga guru mata pelajaran tidak hadir), mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran ganda.

Petunjuk Pengisian Format RPP

A. Identitas

Tuliskan identitas RPP terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­/Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu (lihat format RPP pada lampiran).

Catatan:

  1. RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
  2. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun dan telah diberlakukan dalam suatu satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK).

Menjadi perhatian: Standar kompetensi – kompetensi dasar – indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan.

Indikator adalah perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa siswa telah mencapai kompetensi dasar.

Kompetensi Dasar adalah sejumlah kompetensi yang memberikan gambaran bahwa siswa telah mencapai standar kompetensi.

  1. Indikator merupakan:
  • Penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • Dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan  potensi daerah.
  • Rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
  • Digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
  • Disusun dengan kalimat operasional (dapat diukur) berisi komponen ABCD (Audience = Siswa, Behavior = Perilaku, Competency = Kompetensi dan Degree = peringkat/ukuran).
  1. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 40 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam  satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya. Baca lebih lanjut

FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN


FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN

Filsafat adalah berfikir secara murni untuk mencari makna yang sedalam-dalamnya, berfikir untuk mencari kebenaran, mewujudkan berfikir murni berupa ilmu atau, pengertian lain filsafat adalah :

  1. Filsafat sebagai aktifitas murni  ( efektif thingking) usaha untuk mengerti segala sesuatu secara mendalam, tingkat berfikir manusia tertinggi untuk memahami alam semesta,
  2. Filsafat sebagai produk  kegiatan berfikir murni, berupa wujud ilmu, hasil pemikiran dan penyelidikan filsafat. Filsafat ini juga berarti suatu bentuk ajaran tentang segala sesuatu sebagai suatu ideologi/ sebagai aktifitas rasio dan wujud

 

TUJUAN PENDIDIKAN

Menurut UU No 20 tahun 2003, tujuan pendidikan Indonesia adalah : Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia,sehat , berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab kepada bangsa dan negara.

  1. Ontology filsafat pendidikan

Ontology merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit, tokoh yunani yang memiliki pandangan bersifat ontologis adalah Thales, Plato dan Aristoteles. Ontologi adalah disiplin ilmu, ontology filsafat pendidikan suatu kenyataan  dimana kehidupan manusia itu bersifat dinamis, temporal, spiritual serta pluralistic. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu.

  1. Epistimologi filsafat pendidikan (tekhnik pendidikan)

Epistemology berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata/pembicaraan/ilmu. Merupakan cabang filsafat pendidikan yang berkaitan dengan asal, sifat dan jenis pengetahuan. Epistemology filsafat adalah pengetahuan dan kebenaran yang bersifat aktif, intelegensi dan operasionalisme intermediate dan mediate experiment yang merupakan ciri-ciri utama suatu pendidikan nasional.

  1. Axiologi filsafat pendidikan

Axiology berasal dari kata axios yang artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal/ teori. Axiologi artinya teori nilai, penyelidikan tentang kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai. Axiologi menurut  Rames bahwa bidang ini menyelidiki pengertian, jenis, tingkat, sumber dan hakekat pendidikan secara kesemestaan. Dasar axiology filsafat pendidikan adalah :

  1. Filsafat pendidikan mempunyai landasan pancasila dan UUD `45
  2. Filsafat pendidikan dapat membedakan secara hakiki sumber-sumber nilai kebenaran dalam suatu perwujudan,
  3. Filsafat pendidikan merupakan sosial budaya dan kebudayaan umat manusia secara keseluruhan diperadaban manusia menurut tempat dan zamannya.

FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN


FILSAFAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN

Filsafat adalah berfikir secara murni untuk mencari makna yang sedalam-dalamnya, berfikir untuk mencari kebenaran, mewujudkan berfikir murni berupa ilmu atau, pengertian lain filsafat adalah :

  1. Filsafat sebagai aktifitas murni  ( efektif thingking) usaha untuk mengerti segala sesuatu secara mendalam, tingkat berfikir manusia tertinggi untuk memahami alam semesta,
  2. Filsafat sebagai produk  kegiatan berfikir murni, berupa wujud ilmu, hasil pemikiran dan penyelidikan filsafat. Filsafat ini juga berarti suatu bentuk ajaran tentang segala sesuatu sebagai suatu ideologi/ sebagai aktifitas rasio dan wujud

 

TUJUAN PENDIDIKAN

Menurut UU No 20 tahun 2003, tujuan pendidikan Indonesia adalah : Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertakwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia,sehat , berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab kepada bangsa dan negara.

  1. Ontology filsafat pendidikan

Ontology merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit, tokoh yunani yang memiliki pandangan bersifat ontologis adalah Thales, Plato dan Aristoteles. Ontologi adalah disiplin ilmu, ontology filsafat pendidikan suatu kenyataan  dimana kehidupan manusia itu bersifat dinamis, temporal, spiritual serta pluralistic. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu.

  1. Epistimologi filsafat pendidikan (tekhnik pendidikan)

Epistemology berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata/pembicaraan/ilmu. Merupakan cabang filsafat pendidikan yang berkaitan dengan asal, sifat dan jenis pengetahuan. Epistemology filsafat adalah pengetahuan dan kebenaran yang bersifat aktif, intelegensi dan operasionalisme intermediate dan mediate experiment yang merupakan ciri-ciri utama suatu pendidikan nasional.

  1. Axiologi filsafat pendidikan

Axiology berasal dari kata axios yang artinya nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal/ teori. Axiologi artinya teori nilai, penyelidikan tentang kodrat, criteria dan status metafisik dari nilai. Axiologi menurut  Rames bahwa bidang ini menyelidiki pengertian, jenis, tingkat, sumber dan hakekat pendidikan secara kesemestaan. Dasar axiology filsafat pendidikan adalah :

  1. Filsafat pendidikan mempunyai landasan pancasila dan UUD `45
  2. Filsafat pendidikan dapat membedakan secara hakiki sumber-sumber nilai kebenaran dalam suatu perwujudan,
  3. Filsafat pendidikan merupakan sosial budaya dan kebudayaan umat manusia secara keseluruhan diperadaban manusia menurut tempat dan zamannya.

SISTEM FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA DAN MORAL


SISTEM FILSAFAT PENDIDIKAN

PANCASILA DAN MORAL

  1. A. Sistematika Filsafat Pancasila

Filsafat pancasila wajar memiliki pola dasar sistematika, system filsafat dilategorikan sebagai filsafat yang meliputi :

  • Bidang antalogi atau ontology
  • Bidang epistemology
  • Bidang axiology atau axologi

Ajaran filsafat mengutamakan :

-          Teori kenegaraan

-          Teori kemasyakatan

-          Teori manusia

-          Hakekat manusia semesta

-          Hakekat kebenaran

-          Hakekat kehidupan

-          Hakekat ilmu pengetahuan

-          Hakekat kebudayaan

-          Hakekat tukar

-          Hakekat moral dan agama

 

Menurut Runes ontology pancasila adalah bidang filsafat yang menyelidiki jenis dan hakekat itu sebagai berikut :

-          AdakKhusus

-          Ada individual

-          Ada umum

-          Ada terbatas

-          Ada tak terbatas

-          Ada universal

-          Ada mutlak

-          Kosmologi

-          Metafisika

-          Tuhan

-          Ada sesudah hati

Pokok-pokok Ontologi Pancasila

  1. Asas dan sumber ada (eksistensi) kemestaan ialah YME
  2. Ada alam semesta (makro kosmos) sebagai ada tidak terbatas
  3. Adanya subjek pribadi manusia, individual, nasional umat manusia
  4. Eksistensi tata budaya sebagai perwujudan nmartabat dan potensial manusia yang utama
  5. Eksistensi subjek manusia mandiri selalu dengan motivasi luhur
  6. Eksistensi unik pribadi manusia ialah kemampuannya untuk menyadari eksistensi diri
  7. Wujud pengalaman, penghargaan dan jangkauan potensi manusia antar hubungan yang fungsional
  8. Subjek manusia ialah eksistensi sadar dalam keadaan kebersamaan sejajar dan horizontal secara interpendensi
  9. Kesadaran eksistensi manusia secara sesana manusia disamping dngan adanya kesadaran social.

Pada dasarnya manusia adalah eksistensi interpenderi kesadaran eksistensi social Runes Epistemologi Pancasila adalah Bidang Filsafat yang menyelidiki :

a)      Sumber

b)      Syarat

c)      Vasiliditas

d)      Hahekat ilmu pengetahuan

e)      Semantika

f)       Matematika

g)      Proses

h)      Batas

 

Epistimologi Disebut jua (Wissneehaftisiekr)

Prinsip Epistimologi Pancasila

  1. Pribadi manusia adalah subjek yang secara potensial dan aktif berkesadaran tahu atas eksistensinya. Proses terbentuknya manusia adalah hash kerja sama atau produk hubungan fungsional.
  2. Sumber pengetahuan adalah alam semesta
  3. Proses pembentukan pengetahuan melalui lembaga pendidikan
  4. Pengetahuan manusia, baik jenis maupun tingkatannya dapat dibedakan secara berjenjang seperti :
    1. Tingkat pengetahuan inderanya
    2. Tingkat pengetahuan ilmiah
    3. Tingkat pengetahuan filosofi
    4. Tingkat pengetahuan religious

AXIOLOGI PANCASILA

Menurut Rubes bidang axiology ialah bidang yang menyelidiki pengertian, jenis, tingkat dan hakekat nilai secara keseluruhan.

Dasar-dasar Axiologi pancasila

  1. Bahwa tuhan yang maha esa adalah sember nilai semesta yang menciptakan  nilai dalam maksa dan wujud antara lain :
    1. Nilai hokum alam
    2. Nilai hokum moral yang meningkat
  2. Subjek manusia dapat membedakan secara hakiki maka sumber dan sumber nilai dalam perwujudan.
    1. Tuhan yang Maha Esa
    2. Alam semesta dan hukum alamnya
    3. Bangsa dan sosio Negara
    4. Negara dan system kebudayaan
    5. Kebudayaan
  3. Nilai dan kesadaran manusiua dan dalam realistis alam semesta yang meliputi :
    1. Tuhan Yang Maha Esa dengan perwujudan nilai agama
    2. Alam semesta dan perwujudan hokum
    3. Nilai filsafat dan ilmu pengetahuan
  4. Manusia dan potensi martabatnya menduduki fungsi ganda dalam hubungan dengan nilai yakni :
    1. Manusia sebagaisubjek nilai
    2. Manusia sebagai pencipta nilai
  5. Martabat kepribadian manusia yang secara potensial, integris dari hakekat manusia
  6. Mengingat maka sumber nilai adalah tuhan yang maha esa dan subjek manusia dengan potensial martabatnya yang luhur yakni budi luhur yang budi nuram.
  7. Manusia sebagai subjek nilai memikul kewajiban bertanggung jawab atas bagaimana mendaya gunakan nilai

Berdasarkan Analisa dapat disimpulkan :

  1. Hakekat kebenaran adalah cinta kasih, yang perwujudannya kebenaran keadilan dan kewajiban.
  2. Bahwa hakekat ketidakbenaran ialah kebancian yang perwujudannya dendam permusuhan, perang dan sebagainya.
  3. Eksistensi fungsional manusia adalah subjek dan kesadarannya berwujudan dunia indera, ilmu, filsafat, kebudayaan, peradaban, etika, ideology agama yang supranatural
  4. Kesadaran manusia tentang nilai tercermin dalam kepribadian dan tindakannya.

  1. B. PANCASILA SEBAGAI SUMBER DAN DASAR MORAL

Negara Indonesia yang berdiri tanggal 17 agustus 1945 merupakan neraga pancasila adil dan pedoman dalam ketatanegaraan prediket prinsip yang berdasarkan ketentuan-ketentuan yuridis konstitusional. Bahwa Negara Indonesia berdasarkan pancasila sebagaimana yang termasuk didalam pembukaan UUD 1945.

Maka konsekuensi pancasila sebagai sumber dan dasar moral baik formal maupun fungsional:

  1. Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara RI
  2. Pancasila adalah norma dasar dan norma tertinggi didalam Negara RI
  3. Pancasila adalah Idiologi Negara, Idiologi Nasional Indonesia
  4. Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa Indonesia atau kepribadian nasional, yang perwujudannya secara melembaga sebagai system Negara pancasila.
  5. Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa, pandangan hidup (keyakinan bangsa) yang menjiwai. System kenegaraan dan kemasyarakatan Indonesia. Karena itu pancasila adalah system filsafat Indonesia yang potensial dan fungsional yang normative dan ideal.

Pancasila sebagai sumber dan dasar model diangkat dan religus sosio kebudayaan dan nilai dasar masyarakat Indonesia, nilai dasar merupakan perwujudan kepribadian bangsa. Nilai pancasila keyakinan atau pandangan hidup bangsa tangh benar, baik dan unggul. Nilai-nilai Dasar sosio-budaya Indonesia melipiti :

  1. Kesadaran ketuhanan dan kesadaran keagamaan secara sederhana dan potensial
  2. Kesadaran kekeluargaan, yang berwujud cinta keluarga sebagai dasar dan kondrat terbentuknya masyarakat dan berkesenambungannya generasi.

Kesadarn Musyawarah – Mufakat adalah menetapkan kehendak bersama, ataupun memecahkan masalah-masalah bersama dalam keluarga atau dalam masyarakat sederhana mereka.

Kesadaran gotong royong, tolong menolong, semangat bekerja sesame tetangga, kampong dan desa. Konsekuensi wajar adanya kegotong royongan. Kesadaran tenggang rasa atau tepa selera sebagai semangat di dalam kekeluargaan atau kebersamaan. Frekwensi format dan imperatifdari kedudukan pancasila sebagai dasar Negara :

Bidang politik

Bidang hokum

Bidang ekonomi

Budaya social budaya

Bidang kehidupan keagamaan

Bidang hamkaennas

 

  1. C. TUJUAN PENDIDUKAN PANCASILA
    1. Merumuskan formal konstitusional baik dalam UU Negara RI maupun dalam GBHN dan UU kependidikan lainnya.
    2. Menjabarkan konsepsional seperti :
  • Lukisan manusia Indonesia seutuhnya (MIS) dan pendidikan seumur hidup
  1. Untuk membentuk kepribadian peserta didik umumnya bangsa dan Negara secara potensional aktifnya kesadaran tahu atas eksistensi diri (subjek)
  2. Menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan kepada nilai-nilai pancasila, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan memberikan bakat kemampuan untuk mengikuti pendidikan dimasa yang akan dating.
  3. Mengembangkan dan melestarikan nilia-nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta membina dan menyadari hubungan antar sesame anggota, sekolah dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lukisan Manusia Seutuhnya (MIS) dapat dilihat melalui sekema di bawah ini :

System                         potensi             sikap Dasar      Wawasan Dasar

b. Perjuangan menurut jenjang dan jenis pendidikan yang bersumber atas ad I.

kebudayaan Nasional dan kurikulum yang berdasarkan kepada wawasan nasional kependidikan dengan kerangka dasar

  1. Sumber dan landasan nilai-nilai dasar bangsa
  2. Nilai-nilai pandangan hidup dan filsafat Negara yang merupakan puncak dan konstitusi nilai social budaya
  3. Kelembagaan dan system pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  4. Kurikulum yang diorganisasikan berdasarkan wawasan nasional, ciri-ciri nasional dan kebutuhan nasional

Sistem Pendidikan Nasional Pancasila

  1. System pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
  2. System pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan mutu serta elevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terancana, terarah dan berkesinambungan.
  3. UU No. 20 Tahun1989 tentang system pendidikan Nasional tidak memadai lagi dan perlu disempurnakan agar sesui dengan amanat perubahan UUD Negara Republik Indonesia 1945.
  4. Berdasarkan porn 3, maka system pendidikan nasional disempurnakan dan diganti dengan system pendidikan nasional menurut UU No.20 Tahun 2003.5. system pendidikan nasional merupakan usaha dan lembaga yang menjamin pengalaman. Pengembangan dan pelestarian secara manta

 

 

 

 

 

DASAR-DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA


DASAR-DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

  1. A. Dasar Pikir Dalil Rasional

Secara yuridis konstisional Negara Indonesia berdasarkan pancasila yang termaksud dab pembukaan UUd 45 alinea ke-4 Ketentuan yuridis kontisional mengandung makna baik formal maupun fungsional menyatakan :

1)      Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara

2)      Pancasila adalah norma-norma dasar dan norma-norma tertinggi dalam Negara R.I

3)      Pancasila adalah ideology Negara

4)      Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional

5)      Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa.

Nilai-nilai dalam social budaya Indonesia :

a)      Kesadaran mengakui adanya tuhan dan kepercayaan Negara

b)      Kesadaran keluarga

c)      Kesadaran musyawarah mufakat dalam akhlak

d)      Kesadaran gotong royong, tolong menolong

e)      Kesadaran tenggang rasa / tepa selera.

 

  1. B. Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila

a)      Hubungan masyarakat dan Pendidikan

Pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan modern pula, pendidikan yang main dan modern hanya diselenggarakan oleh masyarakat yang maju dan modern, secara teoritis disebut hubungan korelasi positif.

Manusia sebagai individual, yang menentukan sikap dan wawasannya kebijaksanaan dan strategi serta tujuan dan sasaran yang hendak ditempuhnya. Pertimbangan dan penentuan ini diambil berdasarkan keyakinan, motivasi dan tujuan dalam hidupnya, maka manusia sebagai subjek individual, pendidikan adalah suatu usaha, aktifitas yang dilakukan menurut tujuan dan kehendaknya (cita karsa) secara mandiri. Bagi anak tujuan dan kehendak belajar dipenuhi oleh factor lingkungan, orang tua / keluarga. Demikian pula dengan masyarakat ! bangsa dan Negara factor luar adalah kondisi dan tantangan zaman dan potensi-potensi yang dimiliki (sumber daya alam, sumber daya manusia dan kebudayaan).

Manusia pribadi atau masyarakat memiliki keyakinan dan kepercayaan yang tercermin dalam tujuan (cita-cita) dan hasrat luhur atau kehendak berdasarkan cita dan karsa memilih dan menerapkan aktifitas / fungsi kehidupan atau usaha mendidik dirinya. Pendidikan merupakan fungsi manusia dan masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan dirinya, martabat dan kepribadiannya. Hubungan masyarakat dengan pendidikan itu sebagai hubungan fungsional berarti :

a)      Bahwa masyarakat atau Negara secara sadar dan mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur akan dicapai melalui kebijakan, lembaga dan strategi tertentu.

b)      Pendidikan suatu lembaga, perwujudannya secara nasional adalah system pendidikan nasional yang bersumber dan ditentukan oleh cita karsa manusia menurut keyakinan dan pandangan hidup dan filsafat Negara sebagai sumber nilai cita dan kepribadian nasionalnya

 

  1. C. Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan ialah nilai dan keyakinan-keyakinan filosofis yang menjiwai dan mendasari dan memberikan identitas suatu system pendidikan nilai-nilai itu bersumber pada pancasila yang dilaksanakan pada berbagai system kehidupan nasional secara keseluruhan.

Fungsi pendidikan ialah membangun potensi Negara, khususnya melestarikan kebudayaan dan kepribadian bangsa yang menentukan eksitensi dan martabat bangsa. Pendidikan nasional harus dijiwai oleh filsafat pendidikan pancasila. Filsafat pendidikan pancasila merupakan tuntunan nasional, karena cita dan karsa bangsa atau tujuan nasional dan harsat luhur rakyat tersimpul dalam pembukaan UUD 45 sebagai perwujudan jiwa dan jiwa pancasila, cita dan karsa ini diusahakan secara melembaga didalam pendidikan nasional sebagai system bertumpu dan dijiwai oleh suatu keyakinan, pandangan hidup atau filosofi tertentu. Maka melalui system pendidikan pancasila akan terjalin cita dan karsa nasional dalam membina watak dan kepribadian dan martabat pancasila dalam subjek pribasi manusia Indonesia seutuhnya.

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: